UNISMA Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Targetkan 37 Profesor hingga Akhir Masa Jabatan Rektor

Prosesi Pengukuhan tiga Guru Besar Unisma, Sabtu (09/05/2026) (foto: Blok-a.com/Zulkaria Irawan)
Prosesi Pengukuhan tiga Guru Besar Unisma, Sabtu (09/05/2026) (foto: Blok-a.com/Zulkaria Irawan)

Kota Malang, Blok-a.com – Universitas Islam Malang kembali menambah kekuatan akademiknya dengan mengukuhkan tiga guru besar baru. Penambahan tersebut sekaligus menambah jumlah profesor yang lahir dan meniti karier akademik sejak awal di lingkungan UNISMA.

Rektor UNISMA, Prof. Drs. H. Junaidi menyampaikan, pengukuhan tiga guru besar tersebut menjadi bagian dari upaya kampus meningkatkan kualitas sumber daya akademik.

“Jadi pada hari ini kita mengukuhkan tiga guru besar lagi sehingga menambah kekuatan guru besar yang ada di UNISMA,” ujarnya.

Adapun tiga guru besar yang dikukuhkan yakni:

  1. Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati sebagai Guru Besar dalam ranting ilmu fisiologi tumbuhan, khususnya tanaman kedelai.
  2. Prof. Dr. apt. Yudi Purnomo sebagai Guru Besar dalam ranting ilmu biomedik farmasi.
  3. Prof. Dr. Dwi Susilowati sebagai Guru Besar dalam ranting ilmu pengembangan masyarakat agribisnis.

Dalam keterangannya, Junaidi menjelaskan Prof. Istirochah memperoleh kepercayaan sebagai guru besar per 1 April 2025. Sementara Prof. Yudi dan Prof. Dwi ditetapkan per 1 Desember 2025 dan baru dikukuhkan pada tahun ini.

Ia menegaskan, ketiga profesor tersebut merupakan guru besar ke-25, 26, dan 27 yang lahir dari “rahim UNISMA”.

“Karena dulu itu kan banyak model guru besar yang pensiun dari negeri kemudian masuk ke swasta. 27 guru besar yang kita lahirkan itu yang memang meniti karir sejak awal di Unisma,” katanya.

UNISMA juga menargetkan peningkatan jumlah guru besar hingga mencapai 10 persen dari total dosen yang dimiliki kampus. Saat ini, jumlah dosen UNISMA tercatat sebanyak 370 orang.

“Sehingga sebenarnya kita menargetkan ada 37 guru besar minimal. Itu bisa kita selesaikan sampai pada akhir masa jabatan saya,” ujar Prof Junaidi.

Menurutnya, target tersebut masih realistis dicapai dalam dua tahun ke depan. Karena saat ini terdapat sekitar 40 dosen dengan jabatan lektor kepala yang siap didorong menjadi guru besar.

“Insya Allah kita masih ada 2 tahun ke depan, insya Allah bisa kita selesaikan. Kita punya 40 dosen yang sekarang ada pada jabatan lektor kepala. Dan ini siap untuk kita dorong segera ke guru besar itu,” ungkapnya.

Untuk mendukung percepatan tersebut, UNISMA menyiapkan berbagai fasilitas dan program pendampingan, terutama dalam publikasi ilmiah internasional.

“Biasanya mereka menyampaikan kesulitan di publikasi, kita beri insentif untuk publikasinya, berkaryalah, publikasikan di jurnal bereputasi, berapa kebutuhan untuk publikasi itu kita sediakan,” jelasnya.

Selain insentif, UNISMA juga memiliki program percepatan guru besar melalui pendampingan di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

“Ada pendampingan, jadi di LPPM kami punya juga bagian yang bertugas untuk mendampingi para dosen yang berjabatan lektor kepala untuk melakukan publikasi di jurnal internasional sehingga bisa segera ke Guru Besar,” tambahnya.

Junaidi menambahkan, UNISMA juga terus mendorong pemerataan guru besar di berbagai fakultas dan program studi.

“Kita analisis memang, jadi kita harapkan setiap program studi itu ada guru besarnya. Kalau tidak sampai di level program studi fakultas, insya Allah kalau pakai standar fakultas kita sudah cukup merata,” katanya.

Ia menyebut Fakultas Pertanian menjadi fakultas yang paling siap dalam melahirkan guru besar karena merupakan fakultas tertua di UNISMA.

“Memang pada fakultas pertanian sebagai fakultas tertua di UNISMA itu memang lebih siap dosen-dosennya,” pungkasnya. (zul/ova)