Harga SPHP di Malang Melejit, Warga Kembali ke Beras Lokal 

Pedagang beras di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)
Pedagang beras di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Harga beras di wilayah Kabupaten Malang mulai tinggi dan fluktuatif. Bahkan, jenis beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) Bulog justru semakin melejit. 

Pedagang beras di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Hanafi mengaku kenaikan beras kembali terjadi beberapa waktu lalu. Kini kenaikan beras jenis SPHP mencapai Rp20 ribu per lima kilogram. 

“Mulai naik per bulan Mei, dari harga awal Rp54.500 menjadi Rp62.500 ribu per lima kilogram,“ ujar Hanafi saat ditemui, Jumat (7/6/2024). 

Sementara itu, beras lokal juga mengalami kenaikan. Namun kenaikan masih tergolong rendah, hanya berkisar Rp200 rupiah per kilogram atau sekitar seribu rupiah per lima kilogram. Kendati demikian, permintaan tidak ada kekurangan menurutnya. 

“Setelah lebaran turun drastis, sekarang (beras lokal) mulai naik lagi. Tapi tidak banyak, satu kilogram harganya masih di bawah harga beras Bulog sekitar Rp11-12 ribu per kilogram,” ujarnya. 

Karena selisih kenaikan yang tinggi tersebut, sambung Hanafi, masyarakat tentunya lebih memilih beras lokal dengan harga jauh di bawah beras jenis SPHP.

Terkait kualitas juga tak kalah, kata Hanafi, beras lokal cenderung lebih punel dibandingkan jenis SPHP. 

“Masyarakat banyak yang beli lokal sekarang, kalau SPHP dulu banyak diminati karena mekar jadi masak dikit saja dinanak jadi lebih banyak. Tapi kembali lagi, beras kan tergantung selera, beras lokal itu paling murah banyak yang cari,” jelasnya. 

Menurutnya, meskipun harga tengah melejit namun permintaan masih tetap. Hal tersebut dikarenakan beras merupakan kebutuhan primer. 

Sementara itu terkait stok dipastikan masih aman. Terlebih, sepengetahuannya, di wilayah Malang dan sekitarnya baru saja memasuki masa panen raya.  

“Penjualannya tetap karen sembako kebutuhan, biasanya masalah rame tidak tergantung muslim. Kayak muslim selametan, hari raya tetep banyak. Kalau habis hari raya, banyak yang dapat arisan sembako biasanya agak sepi meskipun harga anjlok,” pungkasnya. (ptu/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?