Kartu Pokemon Seharga Rp160 Juta Terjual di Malang, Ini yang Membuatnya Mahal

Salah satu kartu pokemon dengan harga Rp35 Juta yang ada di Kolektible Store. (blok-a.com/ M Berril Labiq)
Salah satu kartu pokemon dengan harga Rp35 Juta yang ada di Kolektible Store. (blok-a.com/ M Berril Labiq)

Malang, blok-a.com – Bagi sebagian orang, kartu Pokemon mungkin hanya dianggap sebagai permainan anak-anak. Namun di dunia kolektor, beberapa kartu tertentu bisa memiliki nilai hingga ratusan juta rupiah.

Salah satunya adalah kartu Pikachu Battle Festa edisi 2014 yang baru-baru ini terjual seharga Rp160 juta di Kota Malang. Transaksi tersebut terjadi di Kolektible, toko kartu koleksi yang berada di kawasan Elpico.

Community Leader Kolektible, Charles, mengatakan kartu tersebut merupakan kartu promosi yang hanya dibagikan dalam event Battle Festa di Jepang. Karena jumlahnya terbatas dan sulit ditemukan, nilainya terus meningkat di kalangan kolektor.

“Yang terjual itu Pikachu Battle Festa 2014. Masuk sekitar Maret dan terjual pada Juni dengan harga Rp160 juta,” ujarnya kepada blok-a.com, Minggu (21/6/2026).

Menurut Charles, kartu Battle Festa tidak dapat diperoleh melalui booster pack seperti kartu Pokemon pada umumnya. Kartu tersebut hanya diberikan kepada peserta event tertentu sehingga jumlah yang beredar sangat terbatas.

Selain itu, kartu yang terjual di Malang tersebut juga telah melalui proses grading Professional Sports Authenticator (PSA), yakni penilaian kondisi kartu oleh lembaga khusus yang menjadi acuan kolektor di seluruh dunia.

“Yang mahal itu seri pertama tahun 2014. Di Indonesia juga jarang ada yang punya,” katanya.

Ia menjelaskan, nilai sebuah kartu koleksi biasanya ditentukan oleh sejumlah faktor. Mulai dari tingkat kelangkaan, karakter yang ditampilkan, sejarah perilisan, hingga kondisi fisik kartu.

Semakin sedikit jumlah kartu yang beredar dan semakin tinggi permintaan kolektor, maka nilainya juga berpotensi terus meningkat.

Selain kartu tunggal, terdapat pula kartu koleksi bernilai tinggi yang dijual dalam satu set. Menurut Charles, beberapa kartu bahkan memiliki harga sekitar Rp75 juta dan harus dibeli secara paket karena memiliki keterkaitan satu sama lain.

Kartu-kartu tersebut umumnya terdiri dari empat hingga lima kartu yang membentuk satu rangkaian cerita atau tema tertentu. Karena dirancang sebagai satu kesatuan, para kolektor biasanya mencari seluruh set secara lengkap dibandingkan membeli satu kartu saja.

“Ada juga yang satu set. Isinya empat sampai lima kartu dan memang ceritanya nyambung. Jadi kolektor biasanya cari satu paket lengkap,” ujarnya.

Menurutnya, kelengkapan set menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai koleksi. Semakin sulit kartu-kartu dalam satu rangkaian itu dikumpulkan, semakin tinggi pula nilai yang terbentuk di pasar kolektor.

Sementara itu, fenomena kartu bernilai tinggi bukan hanya terjadi pada Pokemon. Di sejumlah seri kartu lain seperti One Piece, terdapat kartu tertentu yang juga memiliki harga fantastis.

Ia mencontohkan kartu karakter Luffy edisi manga rare yang dalam kondisi tertentu dapat memiliki nilai hingga ratusan juta rupiah di pasar koleksi.

“Kalau di One Piece juga ada yang mahal. Bahkan kartu raw atau yang belum grading bisa sampai sekitar Rp100 juta,” ungkapnya.

Meski demikian, sebagian besar kolektor tidak semata-mata membeli kartu untuk dijual kembali. Banyak di antaranya yang berburu kartu karena menyukai karakter tertentu atau ingin melengkapi koleksi pribadi.

Namun, tidak sedikit pula yang menjadikan kartu koleksi sebagai instrumen investasi. Mereka biasanya memantau perkembangan harga melalui komunitas maupun pasar jual beli kartu untuk mengetahui tren yang sedang berlangsung.

“Kalau investasi harus lihat karakternya juga. Misalnya Pikachu, karena banyak yang suka dan selalu dicari kolektor,” jelas Charles.

Ia menambahkan, tren kartu koleksi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan, terutama di kalangan kolektor dewasa. Selain didorong faktor nostalgia, meningkatnya komunitas kolektor juga ikut memengaruhi naiknya permintaan terhadap kartu-kartu tertentu.

“Kalau mau mengikuti harga pasar memang harus aktif lihat komunitas dan market. Dari situ bisa tahu kartu yang sedang naik atau banyak dicari,” pungkasnya. (ber/bob)

Exit mobile version