Galery Bangho Jadi Primadona Festival Malang Tempo Doeloe 2026, Pengunjung Rela Antre demi Nuansa Kolonial

Galery Bangho jadi primadona festival Malang Tempo Doeloe 2026, pengunjung rela antre demi merasakan nuansa kolonial (foto: istimewa)
Galery Bangho jadi primadona festival Malang Tempo Doeloe 2026, pengunjung rela antre demi merasakan nuansa kolonial (foto: istimewa)

Kota Malang, Blok-a.com – Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) 2026 di Taman Krida Budaya terus dipadati pengunjung sejak dibuka pada 30 Juni lalu. Ribuan orang memadati kawasan festival setiap harinya, bahkan tidak sedikit wisatawan dari luar daerah seperti Solo, Yogyakarta, Bandung, hingga Jakarta yang sengaja datang untuk menikmati suasana tempo dulu.

Di antara puluhan stan yang hadir, Galery Bangho menjadi salah satu destinasi favorit. Mengusung konsep bangunan kolonial lengkap dengan koleksi barang antik asli, stan ini selalu dipenuhi pengunjung yang rela mengantre demi mengabadikan momen dengan latar bernuansa klasik.

Pantauan di lokasi, Jumat (3/7/2026) malam, antrean terlihat mengular di depan Galery Bangho. Pengunjung bergantian berfoto menggunakan berbagai properti bergaya tempo dulu, mulai topi fedora, gaun klasik, hingga jas bergaya Eropa.

“Rasanya kayak balik ke tahun 1950-an. Keren banget dekornya, detail banget,” kata Rani, pengunjung asal Bandung yang mengaku rela mengantre sekitar 30 menit.

Festival yang berlangsung hingga 5 Juli 2026 tersebut menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Kalangan orang tua memanfaatkannya untuk mengenang masa lalu, sementara anak-anak muda berburu pengalaman dan konten media sosial dengan latar bernuansa klasik.

Daya tarik utama Galery Bangho terletak pada koleksi barang antiknya yang merupakan benda asli, bukan replika. Sebagian besar koleksi bahkan telah berusia lebih dari satu abad.

Beberapa di antaranya adalah Gramophone Thorens produksi Swiss tahun 1922, Gramophone Tropical keluaran 1919, Radio Telefunken buatan Jerman tahun 1951, Radio Philips Guitar produksi Belanda tahun 1952, hingga beragam radio tabung langka yang masih terawat dengan baik.

Suasana semakin terasa autentik berkat desain stan bergaya gedung kolonial yang dipadukan dengan pencahayaan lampu berwarna kuning temaram. Konsep tersebut menjadikan Galery Bangho sebagai salah satu lokasi berfoto yang paling ramai dikunjungi selama festival berlangsung.

Keramaian di stan tersebut juga menarik perhatian Shinta Prameswari, Miss Cultural Junior Indonesia 2025 sekaligus Putri Kebudayaan Jawa Timur. Menurutnya, Festival Malang Tempo Doeloe menjadi sarana efektif untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda.

“Tanggapannya sangat luar biasa. Festival ini bisa memperkenalkan budaya zaman dahulu ke anak remaja zaman sekarang yang sudah mulai melupakan budayanya sendiri,” ujar Shinta.

Ia menilai, berbagai benda bersejarah yang dipamerkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan pelajaran tentang perjalanan peradaban.

“Jadi, melalui event ini kita bisa belajar bahwa dari barang-barang zaman dahulu pun kita bisa mengambil pelajaran,” imbuhnya.

Di akhir kunjungannya, Shinta mengajak masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya Indonesia.

“Salam budaya! Lestari budayaku di Nusantara,” tukasnya. (yog)

Exit mobile version