Pameran Fotografi Kupas Ludruk hingga Wayang Topeng, Satukan Narasi Budaya di Jombang

Suasana pameran fotografi yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang (foto: Istimewa)
Suasana pameran fotografi yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang (foto: ist)

JombangBlok-a.com – Gedung Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menjadi ruang pertemuan antara narasi budaya dan seni visual kontemporer. Pameran bertajuk “Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual” resmi dibuka, menghadirkan kolaborasi dua fotografer lintas latar belakang, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya.

Pameran yang berlangsung hingga 2 April 2026 ini menyuguhkan karya visual berupa fotografi dan lukisan. Juga menghadirkan artefak arkeologi serta aksara Nusantara klasik yang jarang terekspos ke publik.

Dalam pameran ini, kedua fotografer menampilkan karya dari perspektif berbeda yang saling melengkapi.

Sofan Kurniawan, alumnus Fotografi ISI Yogyakarta yang kini aktif sebagai fotografer di Jawa Pos Radar Mojokerto, menampilkan karya bertajuk “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”.

Melalui karya tersebut, Sofanka mengangkat sosok travesti dalam kesenian ludruk, yakni laki-laki yang berperan sebagai perempuan di atas panggung. Lewat pendekatan visualnya, ia membedah tubuh sebagai ruang ekspresi sekaligus simbol perlawanan dalam konteks sosial.

Secara historis, kesenian ludruk pernah mengalami pembekuan pada masa Orde Baru karena dianggap kritis dan merepresentasikan ideologi tertentu. Namun seiring waktu, ludruk kembali bangkit dan eksis sebagai hiburan rakyat, terutama di wilayah pedesaan.

Sementara di sisi lain, Luhur Wahyu Wijaya menghadirkan nuansa tradisi melalui tema “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru”. Luhur, pegiat fotografi budaya yang juga merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten Jombang, berupaya mendokumentasikan keberlanjutan kesenian tradisional di tengah arus modernisasi.

Melalui karyanya, ia menunjukkan bahwa kesenian lokal seperti wayang topeng tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Secara umum, pameran ini mengajak pengunjung menelusuri jejak masa lalu melalui visual, artefak, hingga aksara kuno yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Salah satu pengunjung, Saskia, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari pameran tersebut.

“Pameran ini sekaligus menjadi literasi bagi kami, baik secara visual maupun tekstual. Banyak hal yang bisa dipelajari dan dikaji,” ujarnya.

Pameran ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat untuk menikmati dialektika seni sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan cagar budaya lokal. Pengunjung diimbau tidak melewatkan kesempatan ini sebelum pameran resmi ditutup pada 2 April mendatang. (sya/ova)

Exit mobile version