Kota Malang, blok-a.com — Polemik penghapusan mural “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, berbuntut pada mundurnya sejumlah musisi dan penampil dari Festival Mbois 11.
Mural “Malang The Glory Land” yang memiliki memori kolektif bagi warga Malang, khususnya komunitas suporter Arema, sebelumnya ditimpa dengan tulisan “Malang Menyala Bersama”.
Penimpaan mural tersebut diduga dilakukan oleh pihak panitia Festival Mbois 11. Aksi itu kemudian memunculkan kekecewaan dari sejumlah komunitas dan pegiat seni di Kota Malang.
Sejumlah musisi yang dijadwalkan tampil dalam Festival Mbois 11 pun memilih menyatakan sikap dengan mengundurkan diri dari rangkaian acara.
Salah satunya d’Kross Official. Band yang dikenal dekat dengan kultur Arek Malang dan Aremania tersebut menyatakan tidak akan tampil dalam Festival Mbois 11.
Road Manager d’Kross, Rahmat Mashudi Prayoga, membenarkan keputusan tersebut.
Dalam pernyataan sikapnya, d’Kross Official menyebut keputusan mundur diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap karya, identitas, sejarah, serta rasa memiliki yang melekat pada mural “Malang The Glory Land”.
“Sebagai band yang lahir dan tumbuh bersama semangat Arek Malang dan Aremania, kami merasa perlu mengambil sikap sebagai bentuk penghormatan terhadap karya, identitas, sejarah, serta rasa memiliki yang melekat pada mural tersebut,” tulis d’Kross Official dalam pernyataannya.
D’Kross menegaskan, keputusan untuk mundur bukan bertujuan memperkeruh polemik yang terjadi. Sikap tersebut disebut sebagai bentuk solidaritas kepada Aremania dan pihak-pihak yang memiliki ikatan dengan mural “Malang The Glory Land”.
“Keputusan ini bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan kami terhadap kawan-kawan Aremania serta seluruh pihak yang merasa memiliki ikatan dengan ‘MALANG THE GLORY LAND’,” lanjut pernyataan tersebut.
D’Kross juga menyatakan tetap mencintai Kota Malang, Aremania, seni, musik, serta semangat kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
“Salam satu jiwa,” tutup pernyataan d’Kross Official.
Tak hanya d’Kross, APA Rapper juga menyatakan mengundurkan diri dari seluruh bentuk keikutsertaan dalam Festival Mbois 11.
Pernyataan tersebut disampaikan APA Rapper melalui akun Instagram @aparapper. Dalam unggahannya, APA Rapper menyatakan sikap setelah melakukan diskusi internal dan mempertimbangkan nilai-nilai perjuangan seni jalanan atau street art serta sikap para pegiat budaya Malang.
APA Rapper sendiri merupakan rapper yang memiliki sejumlah karya yang berkaitan dengan kultur Arema. Salah satu lagunya yang dikenal adalah “Salam Satu Jiwa”.
“Kreativitas dan seni lahir dari kebebasan berekspresi serta penghormatan terhadap ruang kultural masyarakat, bukan untuk saling menindas atau mengorbankan identitas sejarah yang telah lama hidup di kota ini,” tulis APA Rapper.
Ia menyebut polemik tersebut berkaitan dengan dugaan penindasan, penghapusan, atau penimpaan karya mural ikonik “Malang The Glory Land” oleh pihak penyelenggara Festival Mbois.
Setelah melakukan diskusi internal, APA Rapper kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dan membatalkan seluruh bentuk keikutsertaan maupun penampilannya sebagai talent dalam rangkaian Festival Mbois 11.
“Demikian pernyataan sikap ini kami buat secara sadar, terbuka, dan tanpa paksaan dari pihak mana pun,” tulisnya.
Mundurnya sejumlah penampil tersebut terjadi menjelang pelaksanaan Festival Mbois 11 yang dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Agustus 2026 di Stadion Gajayana, Kota Malang.
Sementara itu, polemik mural “Malang The Glory Land” juga mendapat respons dari Aremania Utas. Pada Kamis (20/8/2026), area mural tersebut terlihat telah diblok menggunakan cat berwarna biru.
Tulisan “Malang Menyala Bersama” yang sebelumnya menimpa mural “Malang The Glory Land” sudah tidak terlihat.
Humas Aremania Utas, Dedi Hari Sandi alias Pak Wo, meminta persoalan tersebut diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Ia juga meminta pihak yang melakukan tindakan tersebut bertanggung jawab dan memberikan penyelesaian kepada pihak yang menginisiasi mural.
Menurut Dedi, “Malang The Glory Land” bukan sekadar tulisan di tembok. Mural tersebut memiliki keterkaitan dengan sejarah dan identitas Aremania yang telah menjadi kebanggaan bersama.
Ia menjelaskan, mural tersebut terinspirasi dari lagu “Malang Tanah Kejayaan” yang kemudian dikenal sebagai salah satu anthem Arema.
“Jadi, sudah tidak ada lagi kubu Arema A atau Arema B; ini sudah menjadi kebanggaan kita semua. Sebagai suatu kehormatan atau kebanggaan yang harus dijaga bersama, maka kami menuntut panitia yang berani berbuat untuk berani bertanggung jawab,” tegas Dedi.
Sementara panitia Festival Mbois 11, Dadik Wahyu Chang mengatakan pihaknya bakal bertanggung jawab atas kejadian ini.
”Kami bertanggung jawab,” singkatnya.




