Asal Usul Kampung Kudusan di Kota Malang, Jejak Buruh Rokok hingga Versi Kampung Gereja

Asal usul nama Jalan Zainul Arifin atau yang lebih dikenal dengan nama kawasan Kudusan di Kota Malang (blok-a.com / Berril)
Asal usul nama Jalan Zainul Arifin atau yang lebih dikenal dengan nama kawasan Kudusan di Kota Malang (blok-a.com / Berril)

Kota Malang, blok-a.com – Nama Kudusan yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan di sekitar Jalan Zainal Arifin, Kota Malang, ternyata menyimpan beragam versi sejarah. Tidak ada satu penjelasan tunggal, namun semuanya mengarah pada jejak sosial masyarakat di masa lalu.

Sejarawan Malang, Agung Buana, mengungkapkan setidaknya ada tiga versi yang berkembang terkait asal-usul nama Kudusan. Tiga versi itu, kata Agung disebabkan karena aktivitas yang ada di kawasan itu.

“Memang ada beberapa versi. Yang paling sering disebut itu terkait dengan orang-orang Kudus yang tinggal dan beraktivitas di kawasan tersebut,” jelas Agung, Jumat (24/4/2026).

Agung menjelaskan, versi pertama sekaligus yang paling kuat berkaitan dengan industri rokok di Malang pada awal abad ke-20. Saat itu, pendiri pabrik rokok Bentoel, Ong Hok Liong, disebut mendatangkan tenaga kerja dari Kudus, Jawa Tengah.

Langkah tersebut dilakukan karena masyarakat Malang kala itu belum memiliki keterampilan membuat rokok.

“Orang Kudus itu memang terkenal punya keahlian membuat rokok. Karena orang Malang belum bisa, akhirnya didatangkan pekerja dari Kudus untuk mengajari,” lanjut Agung.

Pabrik awal Bentoel sendiri berada di kawasan Urek-Urek, tepatnya di Jalan Wiro Margo yang kini menjadi area Museum Bentoel. Seiring berkembangnya industri tersebut, para pekerja asal Kudus kemudian menetap di sekitar lokasi pabrik.

Mereka tinggal di sejumlah titik, termasuk di kawasan yang kini dikenal sebagai Kudusan dan sekitar Kampung Gajahmada.

“Karena mereka tinggal di situ, akhirnya kawasan itu disebut Kudusan,” ujarnya.

Selain bekerja di industri rokok, sebagian warga asal Kudus juga membuka usaha kecil. Mereka menjual berbagai perlengkapan ibadah seperti kopiah, sarung, sandal, hingga sajadah. Aktivitas ini diperkirakan sudah berlangsung sejak masa kolonial Belanda, sekitar tahun 1910 hingga 1920-an.

“Rokok dulu produksinya musiman, biasanya saat panen. Jadi selain bekerja, mereka juga berdagang,” tambahnya.

Versi lain, Agung menyebutkan nama Kudusan muncul karena banyaknya pedagang asal Kudus yang berjualan di kawasan tersebut. Namun menurut Agung, aktivitas berdagang itu tidak bisa dipisahkan dari keberadaan mereka sebagai pekerja pabrik rokok.

“Bukan hanya jualan, tapi memang mereka juga pekerja rokok. Jadi dua aktivitas itu berjalan bersamaan,” jelasnya.

Selain dua versi tersebut, ada pula cerita yang mengaitkan nama Kudusan dengan keberadaan gereja di sekitar kawasan itu. Di area dekat Malang Plaza, terdapat sejumlah gereja yang sudah ada sejak lama. Dalam tradisi gereja, lagu-lagu seperti “Malam Kudus” atau “Roh Kudus” sering dinyanyikan.

“Karena banyak gereja di situ, ada yang mengaitkan dengan istilah ‘Kudus’ dari tradisi gereja. Lalu orang menyebutnya Kudusan,” terang Agung.

Meski demikian, versi ini lebih bersifat cerita lisan yang berkembang di masyarakat. Dari berbagai versi yang ada, Agung menegaskan penamaan Kudusan tidak lepas dari dinamika sosial masyarakat pada masa itu, terutama keberadaan komunitas pendatang dari Kudus.

“Yang jelas, nama itu muncul karena aktivitas manusia di situ. Entah karena pekerja rokok, pedagang, atau faktor lain, semuanya berkontribusi,” pungkasnya. (yog/bob)

Exit mobile version