Content Creator di Kota Malang Bisa Dapat Job dari Brand Besar, Padahal Followers dan Like Beli

Content Creator di Kota Malang Bisa Dapat Job dari Brand Besar, Padahal Followers dan Like Beli
Yohanda founder komunitas content creator Ncreators.id di Podcast Pulang Kerja by blok-a.com (dok. Podcast Pulang Kerja)

Kota Malang, blok-a.comFounder komunitas Content creator Malang NCreators.id, Yohanda Galuh P menceritakan pengalamannya masuk di grup yang berisi content creator halu atau gadungan.

Halu di sini artinya content creator tersebut memiliki like- followers, ataupun komentar dengan cara instant atau membeli. Meskipun begitu, brand-brand memakai content creator itu untuk endorsment.

Hal itu diungkapkannya saat berada di Podcast Pulang Kerja by Blok-a.com.

Yohanda mengawali cerita saat itu di sekitar tahun 2021 suka untuk membuat konten video kafe yang ia kunjungi.

Ibu 3 anak ini lalu dikirimi pesan singkat oleh seseorang untuk ikut suatu komunitas di Whatsapp Grup yang berisi influencer.

“Jadi ada yang nge-DM ngajak bergabung di komunitas influencer. Alasannya adalah karena melihat kontenku karena aku suka ngonten yang kedua followersku lebih dari seribu,” jelasnya.

Awalnya Yohanda agak heran. Dia bertanya-tanya semudah itu masuk di sebuah komunitas influencer.

Dia pun mengiayakan dengan harapan nantinya akan bertemu influencer atau content creator Kota Malang seperti MC-MC terkenal layaknya Renata Angel, Raisya Amalia, ataupun MC Go Rulli.

Namun saat bergabung di grup yang diklaim berisi influencer atau konten creator itu tidak seperti harapannya. Dia tidak ada yang kenal anggota di member grup WA yang mengklaim sebagai kumpulan influencer di Malang.

“Tak scrolling gak ada yang kenal, akhire tak pantau,” kata dia di podcast tersebut.

Setelah itu, Yohanda melihat di grup tersebut ada tawaran pekerjaan dari brand. Anggota yang berisi ratusan orang itu termasuk Yona selanjutnya mencoba untuk apply tawaran itu.

Namun Yohanda gagal terpilih untuk pekerjaan tersebut.

“Akhirnya di grup ini dishare pekerjaan-pekerjaan yang kita bisa apply sebagai influencer. Influencer yang dimaksd itu adalah content creator. Jadi lebuh ke agency, bukan influencer,” jelasnya.

Yona akhirnya melihat member dari grup WA tersebut yang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan alasan penasaran. Dia penasaran kenapa dia tidak diterima dan member lainnya diterima.

Akhirnya ada satu cowok di grup WA itu yang berhasil lolos menerima pekerjaan sebagai konten creator.

Yohanda pun mencoba bertanya ke yang lolos menerima pekerjaan yang dishare di grup WA itu.

Sebab setiap pagi cowok tersebut mengaku di-endorse oleh sebuah warung kopi.

“Dia ini yang tiap pagi nge-pap lagi ngopi, sak gorengane sak rokoke. Terus bilang namanya juga rezeki. Ndak umum sekali,” jelasnya.

Dia pun keheranan karena dengan konten tersebut, cowok itu mempunya followers 40 ribu kurang lebih. Dia pun bertanya bagaimana caranya cowok itu mempunyai followers 40 ribu.

“Terus dianya jawab ‘ya namanya rezeki mba’,” heran Yohana.

Namun dengan followers 40 ribu itu, Yohanda juga tidak pernah melihat content dari cowok itu berseliweran di media sosialnya. Logikanya dengan followers lebih dari 40 ribu itu konten cowok itu atau namanya sudah terkenal. Namun kenyataannya tidak.

“Karena waktu itu aja Rully (MC Rully) followersnya gak sampai 10 ribu loh, kita udah tahu,” kata dia.

Cowok ini pun mengaku tidak beli followers meskipun banyak yang mengira followers 40 ribu itu pastinya beli.

“Oh oke nggak beli nggak beli. Aku gak sempet ngecek followersnya enggak. Belum kepikiran,” kata dia.

Cowok itu pun makin sering menerima job-job dari brand besar di Kota Malang sebagai influencer atau content creator.

“Dia lolos loh ada brand besar lolos loh,” kata dia.

Yohana pun penasaran, karena cowok ini dinilainya tidak pernah membuat suatu yang viral hingga membuat brand tertarik kepadanya. Bahkan video-videonya saat dilihat viewersnya tidak sampai ribuan, cuma 50.

“Eh dengan followers segitu tadi, viewnya 50 biji. Ada yang 100 biji. Kan aneh? dan likenya ratusan,” ujarnya.

Akhirnya, Yohanda berpikir bahwa followers banyak, like banyak ternyata bisa dibeli. Yohana juga berpikir demikian ke cowok tersebut.

Hal ini diperkuat dengan adanya member di grup Whatsapp tersebut yang membagikan link untuk beli followers, beli viewers, hingga beli like di media sosial.

Yohana pun memantau bahwa di grup tersebut member-membernya juga melakukan hal demikian, yakni membeli followers hingga like untuk memperlihatkan bahwa kontennya ramai.

Yohanda pun ikut dalam kebiasaan member-member grup WA itu untuk membeli like, followers, hingga komentar di setiap konten yang dia unggah di akun media sosialnya. Harapannya agar dia menerima job yang dibagikan di WA grup tersebut.

“Setiap upload aku beli. Paling kalau budget kehaluan itu sekitar Rp 50 sampai Rp 100 ribu sudah include semua. Dan kayaknya sekarang lebih murah itu,” ujarnya.

Karena followers hingga like di akun media sosialnya bertambah, akhirnya Yohana menerima job dari brand.

Perilaku membeli like dan followers itu pun akhirnya ia sudahi beberapa minggu berjalan. Hal ini dikarenakan Yohanda merasa dia telah menipu brand yang memberi job kepadanya sebagai konten creator atau influencer.

“Kan sama aja kita melakukan sebuah pekerjaan kita menipu brand, jangankan brand kita menipu diri sendiri,” kata dia.

Akhirnya Yohanda pun keluar dari grup WA tersebut.

Lihat selengkapnya di podcast Pulang Kerja by blok-a.com. (bob)

Exit mobile version