Blok-a.com – Seniman asal Lawang, Kabupaten Malang, Digi Arafah, baru saja menutup perjalanan berkesan setelah karyanya tampil di Dolmen Museum, Gochang, Korea Selatan. Kesempatan tersebut merupakan momen pertukaran budaya yang langka, di mana seni digital Indonesia berdialog dengan warisan kuno Korea.
Usai pameran, Digi membagikan pengalamannya tersebut, bagaimana publik internasional menyambut karya dirinya bersama rekan-rekan se-Asia Tenggara lainnya.
Pameran bertajuk A Global Gaze from Gochang itu berjalan sukses dan mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Digi mengutip salah satu panitia lokal yang mengatakan bahwa acara tersebut bahkan dikunjungi oleh sejumlah duta besar dari berbagai negara.
“Kemarin saya memberikan tur pemandu pameran untuk Duta Besar Rumania, Indonesia, Turki, dan Armenia untuk Korea. Mereka berbicara dengan sangat positif tentang pameran tersebut dan mengatakan bahwa pamerannya luar biasa,” ujar panitia kepada Digi.
Pameran itu sendiri menampilkan karya berjenis new media art berupa instalasi video wall di lantai satu museum. Dalam proses kreatifnya, Digi bekerja sama dengan Gallery Amidi untuk menemukan perspektif baru mengenai situs dolmen.
“Kami bersama Gallery Amidi saling menemukan bagaimana akhirnya situs dolmen bukan hanya batuan kuno saja, tapi punya sudut pandang baru di mata para seniman new media art,” tuturnya.
Kolaborasi itu menjadikan karyanya bukan hanya interpretasi personal, melainkan hasil dialog antara teknologi, sejarah, dan estetika.
“Makna yang ingin disampaikan lebih condong ke bagaimana Dolmen Gochang bukan hanya situs wisata, melainkan bagaimana dolmen bisa melampaui batas waktu dan menyatukan dalam semangat serta pesan yang sama di satu kanvas yang sama,” jelasnya.
Konsep ini sejalan dengan karakter karya-karya Digi sebelumnya. Dalam wawancara sebelumnya dengan Hipkultur, ia pernah menyebut bahwa media digital adalah cara baru untuk berbicara dengan sejarah bahasa lintas generasi yang dapat dimengerti siapa pun tanpa batas geografis.

Atmosfer Seni yang Berbeda
Ketika membandingkan atmosfer pameran di Korea dan Indonesia, Digi merasakan adanya perbedaan yang cukup mencolok. Di Korea, menurutnya, sistem pameran lebih terbuka terhadap partisipasi lintas negara.
“Di sana mungkin lebih terbuka terhadap negara mana dan siapa saja untuk jadi partisipan. Karena dengan seperti itu mereka akan menjadi pusat pertukaran kebudayaan, dan sebuah pameran akan lebih terlihat di penjuru dunia,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan rasa kagumnya terhadap cara publik Korea menghargai karya seni.
“Mereka sangat menghargai apa pun yang kita bikin. Itu mungkin hal dasar yang saya syukuri nggak terlalu muluk, tapi tulus,” katanya.
Baginya, sikap itu menjadi pelajaran penting bahwa penghargaan terhadap karya seni dimulai dari keterbukaan dan rasa ingin tahu, bukan sekadar ikut tren.
Menutup perbincangan, Digi berharap kesempatan tampil di panggung internasional tidak berhenti di dirinya saja.
“Semoga ya, mereka (seniman Indonesia) akan lebih tumbuh dan semakin besar di mata negara lain,” ucapnya.
Ia percaya potensi seniman muda Indonesia sangat besar, terutama dengan berkembangnya new media art yang kini diakui dunia. Karya digital juga memungkinkan batas-batas media pameran menjadi semakin luas. Tidak lagi terbatas pada ruang fisik, melainkan juga hadir di layar, ruang publik, bahkan dunia maya.
Pameran A Global Gaze From Gochang merupakan salah satu rangkaian acara World Heritage Gochang 2025 yang diprakarsai oleh UNESCO. Acara ini telah berlangsung sejak 2 Oktober hingga 22 Oktober 2025. Namun demikian, karya Digi Arafah dan delapan seniman asal Asia Tenggara lainnya akan dipamerkan permanen di media wall Dolmen Museum. (mg2/gni)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)



