Hati-Hati! Ini Adalah Ciri Mahasiswi di Malang yang Mudah Termakan Modus Bercumbu tanpa Komitmen, Fatherless Salah Satunya

Hati-Hati! Ini Adalah Ciri Mahasiswi di Malang yang Mudah Termakan Modus Bercumbu tanpa Komitmen, Fatherless Salah Satunya
Ilustrasi (ist.)

 

Kota Malang, Blok-a.com – Pergaulan bebas, di bawah maraknya tajuk “Malang Gaya Bebas”, menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Perubahan nilai dan norma dalam masyarakat modern telah membuka ruang bagi praktik pergaulan bebas yang semakin merajalela. Salah satunya adalah fenomena modus ajakan mahasiswa senior kepada mahasiswi baru di Malang untuk bercumbu tanpa ikatan pernikahan.

Menurut psikolog, Romi Anshorulloh, semuanya bermula dari pola asuh sejak kecil. Ada faktor bawaan yang menjadi ciri mahasiswi baru di Malang yang mudah terkena bujuk rayu atau modus dari mahasiswa senior. Yakni sosok yang kosong figur ayah.

“Istilahnya fatherless, yakni mereka yang kosong figur ayah,” jelas Romi, pada (1/9/2024).

Fatherless tidak harus menjadi seorang anak yatim. Namun, sosok ayah yang tidak banyak berkomunikasi, peduli, dan dekat dengan sang putri juga bisa dikategorikan fatherless.

“Seperti ayah yang di rumah cuma main HP, jarang ngobrol, tidak peduli. Nah itu bisa menciptakan ruang kosong bagi anak,” beber Kabid BPOK Asosiasi Psikologi Islam wilayah Jawa Timur ini.

Kemudian, hal itu menciptakan ruang kosong di dalam diri seorang anak. Sehingga ketika tumbuh dewasa, sosok anak kecil dalam dirinya tidak ikut berkembang. Sosok inner child itu kemudian menumbuhkan rasa ingin dimanjakan bak anak kecil dan disayang.

“Jadi di masing-masing diri kita ada yang namanya innerchild ya. Kalau tidak tumbuh dewasa seperti tubuhnya dia perlu disayang, dipeluk, dibelikan permen contohnya. Nah itu apabila menjadi obsesi maka akan menjadikan dia lengah untuk disentuh dengan orang asing,” bebernya.

Ciri-ciri sosok yang mudah termakan bujuk rayu adalah mudah merasa kagum dengan hal kecil. Dia juga akan mudah terpikat dengan pesona seorang laki-laki. Selain itu, sosok tersebut juga sangat sulit berpegang teguh pada pendirian.

Romi menjelaskan bahwa pola perilaku tersebut bisa terdeteksi sejak dini. Bahkan, tidak memandang umur. Sehingga, bagi perempuan yang merasakan seperti ciri di atas ada baiknya segera menghubungi bantuan konseling.

Sementara itu, bagi mahasiswi yang sudah terjerumus, harus segera bangkit. Tidak boleh terhanyut pada aliran hubungan tidak sehat yang telah membuat ketergantungan.

“Kita analogikan seperti hanyut di sungai ya, yang tidak tahu akan kemana, bisa ke air terjun bisa ke laut. Maka harus segera dikuatkan pondasinya lalu menepi. Harus segera meninggalkan aliran itu sebelum terlambat. Harus keluar dari siklus itu. Pastinya ada pengorbanan, itu pasti,” tutur Romi. (wdy/bob)

Exit mobile version