Kisah Penjual Koran 34 Tahun di Kota Malang, Tetap Eksis Walau Era Digital Merebak

Kuswadi, agen sekaligus penjual koran di Kota Malang yang sudah berjualan selama 34 tahun. (blok-a.com / M Berril Labiq)
Kuswadi, agen sekaligus penjual koran di Kota Malang yang sudah berjualan selama 34 tahun. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com– Perkembangan teknologi membuat cara orang mendapatkan informasi berubah. Berita kini lebih sering dibaca melalui layar ponsel. Namun di tengah arus informasi digital itu, masih ada orang yang setia menggantungkan hidup dari lembaran koran.

Hal itu seperti yang dijalani Kuswadi (52), agen sekaligus penjual koran di perempatan Kelud, Kota Malang. Ia sudah 34 tahun menekuni pekerjaan sebagai penjual koran.

Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, Pak Kus, sapaan akrabnya, sudah mulai berjualan di perempatan tersebut hingga menjelang siang.

“Sudah 34 tahun jualan koran,” kata Pak Kus, saat ditemui blok-a.com, Selasa (17/3/2026).

Di era ketika banyak orang membaca berita dari gawai, ia mengaku tetap bertahan karena kecintaannya pada media cetak.

“Ya karena kita cinta sama koran sih. Ini pemberian Allah, kita jalani apa adanya,” ujarnya.

Dalam sehari, ia bersama para pengecer menjual ratusan eksemplar koran dari berbagai penerbit. Namun tidak semua koran yang diambil selalu terjual habis. Beberapa media bahkan tidak bisa dikembalikan ke penerbit sehingga menjadi risiko bagi penjual.

“Kurang lebih 500 lembar sehari, tetapi beberapa media kan ada yang nggak bisa dikembalikan. Jadi itu termasuk risiko yang harus kita lalui,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar pembeli koran saat ini berasal dari kalangan orang tua. Meski begitu, masih ada pelajar yang membeli koran untuk kebutuhan tugas sekolah.

“Kalau anak muda jarang. Yang masih beli biasanya bapak-bapak. Namun seringnya pelajar SMP atau SD beli buat tugas sekolah, artikel atau semacam itu,” kata Pak Kus.

Dari pekerjaan itu, penghasilan yang diperoleh tidak menentu. Dalam sehari ia biasanya mendapatkan sekitar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu.

“Kalau dibilang cukup ya cukup, ndak ya ndak,” ucapnya.

Selain menjual koran, bapak tigak anak ini memiliki pekerjaan lain untuk menambah penghasilan. Di kampungnya, ia juga mengelola pengolahan sampah.

“Ya saya cari tambahan juga. Buat bantu bayar listrik sama kebutuhan rumah,” ujarnya.

Pria asal Muharto itu mengaku perjalanan hidupnya di dunia perkoranan tidak langsung menjadi agen. Ia memulai semuanya dari bawah sebagai pengecer yang setiap hari berjualan di jalanan.

“Saya dulu juga pengecer. Jadi sengsaranya saya jangan sampai teman-teman pengecer merasakan yang sama,” tuturnya.

Pengalaman menjadi pengecer membuatnya memahami kesulitan para penjual koran di lapangan. Karena itu, ia berusaha membantu para pengecer yang bekerja dengannya.

“Teman-teman berangkat dari rumah niat kerja saja. Yang nggak laku bisa dikembalikan, yang laku disetorkan,” katanya.

Meski pembaca koran semakin berkurang, ia berharap media cetak tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Dikatakannya media online dapat tetap menjaga kualitas informasi seperti yang dilakukan media cetak.

“Harapan saya koran tetap ada karena koran itu jendela ilmu. Bagi media online juga haeus menyampaikan berita apa adanya, jangan hoaks. Kalau di media cetak kan ada aturan dan bisa dituntut,” tegasnya.

Dengan pekerjaannya sekarang, Pak Kus mengaku tetap bersyukur bisa bertahan dari hasil berjualan koran, meski penghasilannya tidak selalu besar. Baginya, pekerjaan itu juga ia jalani sebagai bentuk ibadah.

“Ya ini niatnya ibadah. Karena kita hidup ya ada yang menghidupkan. Rejeki itu seperti air yang menetes, tidak banyak tapi setiap hari ada,” tutupnya. (ber/bob)

Exit mobile version