Sejarah Bebekan Malang, Berawal dari Kebiasaan Warganya Angon Bebek

Kawasan Bebekan, RW 02 Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang (foto: blok-a.com / M Berril Labiq)
Kawasan Bebekan, RW 02 Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang (foto: blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Sejarah nama kawasan Bebekan di Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang, diduga berasal dari kebiasaan warga menggembala (angon) bebek di area persawahan. Aktivitas tersebut masih ditemukan hingga sekitar 1980-an, sebelum kawasan itu berkembang menjadi permukiman.

Sejarawan Malang, Agung H Buana, mengatakan Bebekan berada di wilayah RW 02 hingga RW 03 Kelurahan Pisang Candi. Pada masa lalu, kawasan tersebut merupakan area persawahan yang membentang hingga Gading Kasri.

Warga dan peternak setempat kerap memanfaatkan sawah-sawah tersebut untuk menggembala bebek setiap hari. Karena identik dengan aktivitas itu, masyarakat sekitar menjuluki wilayah tersebut sebagai Bebekan.

“Kawasan Bebekan dulu disebut karena kebiasaan warganya adalah angon bebek. Orang-orang selalu menyebut tempatnya orang-orang angon bebek. Dan itu masih bisa melihat orang angon bebek di tahun 1960 sampai 1980-an,” ujar Agung kepada blok-a.com, Rabu (4/11/2026).

Namun, Agung menyebut asal-usul nama Bebekan belum dapat dipastikan hanya dari kebiasaan menggembala bebek. Nama tersebut juga mungkin berkaitan dengan tanaman yang tumbuh di kawasan itu.

“Bisa juga Bebekan itu berasal dari nama pohon atau nama daun-daunan yang bentuknya kayak cocor bebek. Jadi sangat mungkin juga nama Bebekan itu berasal dari nama-nama tanaman,” jelasnya.

Versi lain menyebut nama Bebekan berasal dari rumput Bebekan (Eragrostis unioloides), tanaman liar yang disebut pernah tumbuh subur di kawasan tersebut. Namun, asal-usul nama itu masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.

Agung menambahkan, nama Bebekan telah tercatat dalam peta Kota Malang tahun 1882 sebagai Desa Bebekan. Catatan tersebut menunjukkan bahwa nama kawasan itu sudah digunakan sejak lebih dari satu abad lalu.

Kebiasaan menggembala bebek kemudian berpindah seiring perkembangan kawasan. Agung mengatakan, ia masih melihat aktivitas angon bebek di kawasan Sumbersari, termasuk sekitar Sigura-gura, pada awal 1990-an. Saat itu, wilayah tersebut masih memiliki hamparan sawah dan jalan beraspal yang terbatas.

“Saya masih melihat orang angon bebek itu di Sigura-gura. Terus masih banyak orang main burung merpati. Sepertinya orang-orang dari Bebekan itu akhirnya bergeser ke arah Sumbersari, karena kawasannya sudah semakin padat,” terangnya.

Ketika Sumbersari mulai padat penduduk, aktivitas menggembala bebek bergeser ke Merjosari. Namun, seiring pembangunan dan meningkatnya kepadatan permukiman, para penggembala kembali mencari lokasi baru hingga akhirnya berpindah ke wilayah Pakisaji.

“Ketika Sumbersari itu makin ramai tahun 1990-1993 mulai dibangun jalan. Akhirnya orang yang mengembala bebek-bebek tadi pindah ke daerah Pakisaji,” tandasnya. (ber)

Exit mobile version