Tindakan Mesum di Tempat Umum Bukan Budaya Malang Asli, Kok Bisa Marak?

Taman Merjosari Malang kerap dijadikan tempat mesum oleh muda-mudi hingga viral di media sosial.
Taman Merjosari kerap dijadikan tempat mesum oleh muda-mudi hingga viral di media sosial.

 

Kota Malang, Blok-a.com – Baru-baru ini, masyarakat Malang dihebohkan dengan beredarnya video tindakan mesum muda-mudi di tempat umum. Dalam video itu, nampak sejoli tengah melakukan tindakan asusila di salah satu kafe, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Tidak hanya itu, di sosial media juga beredar banyak video muda-mudi yang tengah bercumbu mesra di tempat umum. Yang paling sering beredar adalah video yang berlokasi di Taman Merjosari, Kota Malang. Video tersebut beredar di media sosial X dan Instagram. Sehingga, mulai muncul sebutan ‘Malang Gaya Bebas’, akibat pergaulan semacam itu.

Namun, nampaknya fenomena itu sudah menjadi gaya hidup baru di Kota Malang. Menurut sosiolog Universitas Brawijaya, I Wayan Suyadnya, menyebut bahwa memang hal tersebut dipengaruhi oleh masifnya jumlah pendatang.

“Ketika nilai-nilai tersebut sedang berubah, artinya masyarakat kita ini sedang mencoba nilai baru, yang tentu saja nilai-nilai tersebut tidak mewakili masyarakat Malang secara keseluruhan. Kalau dari kategori masyarakat sendiri adalah faktor yang pertama adalah, adanya ruang pendatang yang diberikan oleh masyarakat,” ujar Wayan, pada (20/12/2023).

Sebagai Kota Pendidikan yang juga mengusung Kota Pariwisata, Wayan menyebut memang Malang menarik banyak pendatang. Sehingga, banyak sekali nilai-nilai di luar Malang yang bertumbuh dan tercipta karena adanya kesempatan. Salah satunya adalah tindakan penyimpangan berupa mesum di tempat umum. Hal itu telah melanggar norma asli Kota Malang.

“Jadi dua hal yang menarik di Malang itu ya, jadi dari dulu kan Malang dikenal dengan akses tempat wisata kedua adalah pendidikan. Mau tidak mau, wisata dan pendidikan itu, terlebih ada industrialisasi misalkan, itu menimbulkan dampak masalah sosial lain,” beber dia.

Pendatang menetap di Malang kemudian mencoba adaptasi dengan nilai-nilai yang dibawanya. Sehingga, apabila nilai-nilai norma di Kota Malang bergeser maka akan menyebabkan pembenaran dari penyimpangan yang dilakukan. Apabila penyimpangan berupa mesum di tempat umum berhasil menggeser nilai moral asli Kota Malang, maka bisa jadi akan semakin merajalela.

“Saya lihat, pergaulan bebas atau apapun itu, muncul dari karakteristik masyarakat pendatang. Kita dengan nilai-nilai lokal ini mengatakan bahwa orang-orang Malang dulu itu tidak menerima, menolak. Kita sebagai warga Malang ini harus refleksi apakah cara pandang kita terhadap lingkungan Kota Malang itu sudah berubah,” beber Wayan. (mg2/bob)

Exit mobile version