Kota Malang, blok-a.com – Memasuki hari-hari awal Ramqdan, umat Muslim mulai menyesuaikan pola aktivitas dan pola makan agar ibadah puasa tetap berjalan optimal. Menjaga kesehatan fisik menjadi bagian penting agar rangkaian ibadah tidak terganggu.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Ketua Bidang Kesehatan Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) sekaligus Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSI Unisma, dr Hardadi Airlangga, membagikan sejumlah tips menjaga kesehatan selama bulan puasa agar tubuh tetap prima dan ibadah tetap lancar.
dr. Hardadi, menyebut, niat ibadah merupakan kekuatan spiritual yang akan berpengaruh langsung terhadap kesiapan fisik seseorang dalam menjalankan ibadah. Menurutnya, islam sudah memberikan persiapan puasa melalui bulan Rajab dan Sya’ban.
“Niatnya puasanya ini adalah untuk ibadah, itu adalah yang pertama karena itu menjadi kekuatan jiwa kita yang memberi kekuatan fisik untuk kita melakukan ibadah. Sebelumnya sudah ada dua bulan persiapan menjelang Ramadhan. Itu persiapan batin dan fisik sekalian,” ujarnya saat ditemui blok-a.com beberapa hari yang lalu.
Bagi masyarakat yang memiliki kendala fisik tertentu, seperti Diabetes Mellitus, Hipertensi, maupun Dislipidemia atau gangguan lemak, dr. Hardadi mengingatkan agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Strategi medis yang tepat diperlukan agar puasa tetap aman dijalani.
“Untuk penderita diabetes, obat diabetes yang biasanya diminum pagi hari, selama Ramadhan dialihkan saat berbuka. Setelah itu, asupan hingga sahur tetap diperhatikan,” jelasnya.
Terkait asupan nutrisi selama Ramadhan, kata dia, prioritas utama adalah tubuh tercukupi kebutuhan cairannya. Pasalnya, berpuasa selama 14 jam bisa membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Karena itu, ia memberikan tips cairan harus bisa diatur dari mulai buka sampai sahur, minimal 8 sampai 10 gelas dicicil.
Pemenuhan gizi seimbang juga tak kalah penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Ia menganjurkan konsumsi sayur, buah, dan ikan sebagai menu utama selama Ramadhan. Kurma, menurutnya, menjadi pilihan takjil yang baik, termasuk bagi pasien diabetes dengan pengaturan yang tepat.
“Untuk menambah daya tahan tubuh itu dianjurkan sayur, buah, dan ikan. Tiga hal ini yang memang dianjurkan juga oleh Nabi. Buahnya itu kurma memang luar biasa. Untuk pasien diabetes melitus, saat takjil perlu makan tiga buah kurma, minum air, sambil meminum obatnya,” jelasnya.
Kemudian, sumber protein lain seperti telur dan susu disarankan, terutama bagi lansia yang memiliki kebutuhan kalsium lebih tinggi. Asupan tersebut tetap perlu dikonsumsi secara seimbang sebagai pelengkap nutrisi harian.
dr. Hardadi juga menyoroti kebiasaan langsung menyantap makanan berat saat berbuka puasa. Hal itu, dinilainya, tubuh memerlukan waktu beradaptasi setelah sekitar 14 jam tanpa asupan, sehingga pola berbuka perlu dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu ibadah malam.
“Berbuka sebaiknya diawali air dan kurma, jangan langsung makan besar. Setelah salat Maghrib baru makan secukupnya, tidak perlu banyak agar tetap nyaman untuk tarawih. Kalau mau makan lagi setelah tarawih, pilih yang ringan seperti sayur, buah, atau ikan,” terangnya.
Ditambahkannya, olahraga tetap dianjurkan selama Ramadhan dengan penyesuaian waktu dan intensitas. Menurutnya, waktu terbaik untuk olahraga ketika mendekati waktu berbuka puasa. Bagi yang terbiasa berolahraga pagi, intensitas sebaiknya diturunkan agar tidak memicu kelelahan. Sementara olahraga malam diperbolehkan dalam bentuk ringan seperti peregangan.
Lebih lanjut, dr. Hardadi menekankan bahwa menjaga kesehatan selama Ramadhan merupakan bagian dari ikhtiar agar manfaat puasa dapat dirasakan secara menyeluruh.
“Sehingga ketika satu bulan terakhir selesai, mudah-mudahan kita mendapatkan manfaat baik yang fisik maupun batin,” pungkasnya. (ber)




