Di Hadapan Polisi, Presiden EM UB Akui Aniaya Rekannya

Caption: Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Danang Yudanto, Selasa (25/6/2024) (blok-a/Andik Agus)
Caption: Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Danang Yudanto, Selasa (25/6/2024) (blok-a/Andik Agus)

Kota Malang, blok-a.com – Terduga pelaku penganiayaan sekaligus Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB) berinsial SNPA telah memenuhi panggilan polisi.

Dia mengakui telah melakukan penganiayaan terhadap rekannya bernama Muhammad Jannah Alfana, mahasiswa UB asal Jombang.

Di hadapan polisi Presiden EM UB itu menjelaskan, motif penganiayaan itu karena adanya kesalahpahaman antara dia dan korban.

Kasat Reskrim Polresta Malang Kota Kompol Danang Yudanto menyampaikan hal itu setelah serangkaian pemeriksaan yang dilakukan terhadap SNPA di Polresta Malang Kota pada tanggal 21 Juni 2024, lusa kemarin.

“Selama pemeriksaan, Satria dicecar sebanyak 30 pertanyaan oleh petugas atas dugaan kekerasan terhadap teman sekampusnya. Yakni Muhammad Jannah Alfana (MJA),  mahasiswa semester delapan Fakultas Matematika dan Ilmu Alam (MIPA) Jurusan Instrumentasi.” kata Danang saat dikonfirmasi awak media, Selasa (25/6/2024).

“Akibat kekerasan ini, korban mengalami gangguan penglihatan pada mata sebelah kiri dan mengakibatkan luka lebam.”sambungnya.

Meski begitu, kata Danang, pihaknya tetap melanjutkan proses penyidikan untuk mengungkap fakta-fakta di balik kasus itu.

“Pemeriksaan SNPA kurang lebih menghabiskan waktu  2 jam. Dan keterangan terlapor sendiri mengaku bahwa dia memukul dan menyampaikan penyesalannya setelah kejadian namun kita penyidikan tetap berjalan,” ujar Danang.

Danang menjelaskan, kejadian ini bermula adanya kesalahanpaham antara terlapor dan pelapor. Lokasi kejadiaan di depan KFC Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada 13 Juni 2024 pukul 04.00 WIB.

Kesalahpahaman itu membuat cekcok antara SNPA dan korban. Akhirnya terjadi pemukulan atau penganiayaan itu.

“Kemudian ada kesalahpahaman, lalu ada cekcok sampai ada pemukulan tersebut,” imbuhnya.

Danang melanjutkan, pihaknya memungkinkan untuk menggelar pra rekontruksi apabila diperlukan oleh penyidik guna mengungkap peristiwa yang sebenarnya terjadi.

“Nanti mungkin akan melaksanakan pra rekontruksi bila diperlukan. Kalau untuk luka dan kondisi korban, kami sampaikan setelah surat visum keluar,” pungkasnya. (ags/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?