Kota Malang, blok-a.com – Pelaku mutilasi di Sawojajar Kota Malang mengungkapkan alasannya hingga tega membunuh korbannya dengan sadis di kamar kos.
Pelaku mutilasi itu adalah Abdurahman. Sementara korbannya adalah pemuda asal Surabaya berinsial AP sekaligus pasiennya.
Saat rilis di Mapolresta Malang Kota, Abdurahman menjelaskan, alasannya membunuh korban hingga memutilasinya karena jengkel dengan AP.
AP kala itu protes terhadap Abdurahman. Sebab, jasa ilmu pelet atau guna-guna yang sudah ia bayar tidak berhasil. Namun protes AP itu juga dilakukan dengan cara memukul Abdurahman secara tiba-tiba.
“Karena dia pukul saya duluan,” singkat Abdurahman saat rilis,
Abdurahman pun jengkel karena awalnya ilmu pelet yang dipesan AP itu berhasil.
AP menggunakan jasa ilmu guna-guna itu pada bulan Juli 2023. Dari bulan Juli, Agustus, hingga September awal, mulanya ilmu guna-guna itu berhasil. AP menggunakan ilmu guna-guna itu untuk membuat orang yang ia suka, tergila-gila padanya.
“Awalnya sudah berjalannya dia sama kekasihnya berjalan lancar, terus omongannya bolak-balik dan balik ke saya terus ngaplok itu,” kata dia.
Akhirnya, Abdurahman yang dipukul oleh AP, langsung memukul balik AP. Kejadian itu terjadi pada 15 Oktober 2023 di kos Abdurahman di daerah Sawojajar, Kota Malang.
Tak hanya memukul, pelaku mutilasi di Sawojajar Kota Malang itu juga mengambil senjata tajam yang sudah disiapkan di wastafel kamar kosnya.
Hal ini diutarakan Kasatreskrim Polresta Malang Kota, Kompol Danang Yudanto saat rilis di Mapolresta Malang Kota, Kamis (11/1/2024).
“Kemudian pelaku mengambil celurit di wastafel yang sudah disiapkan korban,” ujar Danang.
Senjata tajam itu digunakan Abdurahman untuk melukai AP hingga tewas di kamar kos tersebut. Keesokan harinya, Abdurahman lalu ke Pasar Besar membeli pisau potong.
Pisau potong itu lalu digunakannya untuk memotong beberapa bagian tubuh AP. Ada pula tiga kantong besar disiapkan untuk membungkus beberapa potong bagian tubuh.
Untuk kantong pertama digunakannya membungkus bagian tubuh AP yang bisa teridentifikasi, seperti kepala, telapak tangan, dan kaki.
“Ada beberapa bagian tubuh yang dimasukkan ke kantong ini yang kiranya bisa diidentifikasi (seperti) kepala, kedua telapak tangan, kedua telapak kaki. Dikuburkan di bantaran sungai bangau,” kata dia.
Sementara dua kantong lainnya digunakan Abdurahman untuk membungkus bagian tubuh AP yang sudah dipotong dan tidak bisa untuk identifikasi. Selain itu juga untuk membungkus barang bukti seperti pisau, hingga ponsel dan laptop milik AP.
“Itu dibuang di Sungai Bangau,” kata dia.
Sebagai informasi, kasus ini sendiri terungkap setelah polisi menangkap Abdurahman pada awal Januari 2024 lalu. Abdurahman berhasil ditangkap gegara informasi yang dikumpulkan polisi selama kurang lebih 3 bulan.
Selama 3 bulan itu, aksi Abdurahman memutilasi AP tidak terendus. Namun, aksi kriminal tersebut mulai terendus karena adanya laporan orang hilang atas nama korban yakni AP.
AP dilaporkan keluarganya hilang tepat saat hari dimana ia dibantai hingga tewas oleh Abdurahman pada 15 Oktober 2023.
Polisi pun awalnya mencari keberadaan AP terlebih dulu. Mobil AP sempat ditemukan di Sawojajar Kota Malang terparkir. Mobil itu kemudian jadi informasi awal polisi untuk mengendus aksi Abdurahman.
Abdurahman sempat dimintai keterangan polisi pada 2023 lalu. Namun Abdurahman berhasil lolos. Abdurahman hanya mengaku bahwa AP adalah pasiennya saja.
Namun pada 4 Januari 2024, berbekal informasi dan data yang dinilai valid, polisi berani menangkap Abdurahman. Abdurahman pun akhirnya saat di kantor polisi mengakui perbuatannya. (bob)




