Kota Malang, blok-a.com – Upaya menghadirkan layanan transportasi publik yang terintegrasi terus dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya. Terbaru, Bus Trans Jatim kini melayani langsung area Stasiun Malang sisi timur atau Stasiun Malang Baru di Jalan Panglima Sudirman.
Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya, Luqman Arif, menyebut kehadiran bus yang langsung berhenti di area parkir stasiun akan memudahkan penumpang berpindah moda.
“Kami mendukung dan menghadirkan layanan Bus Trans Jatim untuk melayani di Stasiun sisi timur atau lebih dikenal sebagai Stasiun Malang Baru. Dengan adanya Bus Trans Jatim, memudahkan penumpang untuk menuju stasiun atau yang baru tiba dan kembali melanjutkan perjalanan,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).
Ia menambahkan, integrasi ini menjadi bagian dari upaya KAI mendorong penggunaan transportasi publik secara berkelanjutan.
“Dengan adanya layanan Bus Trans Jatim di Stasiun Malang Baru, mobilitas masyarakat menuju pusat Kota Malang maupun wilayah lainnya bisa semakin mudah. Sekaligus, juga mendorong minat masyarakat dalam menggunakan transportasi umum baik kereta maupun bus,” terangnya.
Setiap hari Stasiun Malang melayani 12 keberangkatan kereta jarak jauh dan pergerakan lebih dari 3.000 penumpang. Luqman menegaskan layanan serupa juga tersedia di sisi barat stasiun.
“Layanan Bus Trans Jatim berjalan sesuai dengan jadwal operasionalnya. Layanan ini juga hadir di Stasiun Malang sisi barat yang biasa digunakan naik turun penumpang kereta lokal Commuterline,” jelasnya.
Kadishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menegaskan bahwa penentuan rute dan titik pemberhentian Trans Jatim di sekitar stasiun bukan keputusan sepihak, melainkan hasil pemetaan Pemprov Jawa Timur yang turut didampingi Dishub Kota Malang.
“Pemberhentian dan rute ini sebenarnya setelah Pemprov Jatim melakukan survey dan pemetaan. Kami mendampingi dan memberikan masukan, ya salah satunya seperti di dekat stasiun itu,” ujarnya.
Widjaja menegaskan komitmen Dishub Kota Malang untuk membangun integrasi lintas moda.
“Karena memang komitmen kami ini menginginkan moda transportasi satu sama lain ini saling terintegrasi, bukan berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan kebijakan menjadikan angkot sebagai feeder, yang sejalan dengan penempatan rute Trans Jatim di dekat stasiun.
“Maka dari itu, seperti angkot kita jadikan feeder. Itu sama halnya trans jatim kita tempatka di rute dekat stasiun, agar semua moda transportasi saling berkesinambungan dan menerima manfaat bersama,” pungkasnya.




