Kota Malang, blok-a.com – Kawasan Muharto yang kini dikenal sebagai salah satu pemukiman padat di Kota Malang menyimpan sejumlah versi cerita mengenai asal-usul penamaannya. Berbeda dengan kawasan lain yang telah tercatat dalam peta kolonial, nama Muharto justru diduga baru muncul setelah kemerdekaan Indonesia.
Sejarawan Malang, Agung Buana, menjelaskan terdapat beberapa cerita yang berkembang di masyarakat terkait asal-usul nama Muharto. Salah satu versi menyebut nama tersebut berasal dari seorang juru kunci makam Tionghoa yang dahulu berada di kawasan itu.
“Di daerah Muharto dulu ada makam Cina atau yang sering disebut Bong Cina. Konon, Muharto itu adalah nama juru kunci makam tersebut,” jelas Agung, Minggu (31/5/2026).
Ia mengatakan, makam Tionghoa tersebut berada di kawasan timur Muharto, tepatnya di area yang kini telah berubah menjadi permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.
Selain itu, berkembang pula cerita lain yang menyebut Muharto merupakan nama seorang tokoh yang disegani masyarakat setempat.
“Ada juga yang menyampaikan bahwa Muharto itu nama jagoannya kampung sana, semacam tokoh yang berpengaruh di wilayah tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, dia menilai kedua versi tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut karena belum ditemukan bukti tertulis yang dapat memastikan asal-usul nama Muharto.
Agung menjelaskan, berdasarkan sejumlah peta peninggalan kolonial Belanda, nama Muharto tidak tercantum dan tidak dapat ditemukan. Dalam peta tahun 1882 maupun 1924, kawasan tersebut masih tercatat sebagai bagian dari Kebalen dan Kutorejo.
Karena itu, Agung menduga nama Muharto mulai digunakan masyarakat setelah masa kemerdekaan, sekitar akhir 1940-an hingga 1950-an.
“Besar kemungkinan nama Muharto muncul setelah tahun 1945. Sebelumnya kawasan itu masih dikenal dengan nama Kebalen Wetan, Kebalen Kulon, atau Kutorejo,” lanjutnya.
Selain menyimpan cerita mengenai asal-usul nama kampung, kawasan Muharto juga memiliki jejak sejarah yang lebih tua. Agung menyebut sejumlah peninggalan masa Hindu-Buddha pernah ditemukan di wilayah tersebut, terutama di kawasan Kedung Luncing, kawasan tepian sungai brantas.
Di lokasi itu ditemukan jaladwara atau talang air batu yang biasanya menjadi bagian dari bangunan candi. Selain itu, masih terdapat punden serta beberapa arca dwarapala yang berfungsi sebagai penjaga kawasan suci pada masa lampau.
“Di Kedung Luncing pernah ditemukan jaladwara. Kemudian di sekitar sana juga masih ada punden dan arca dwarapala kecil,” jelasnya.
Meski asal-usul nama Muharto masih menjadi perdebatan, Agung menegaskan, kawasan tersebut memiliki sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan masyarakat modern, tetapi juga jejak peradaban sejak masa Kerajaan Singhasari hingga era kolonial.
“Masih banyak yang simpang siur. Apakah Muharto itu nama juru kunci makam atau tokoh yang disegani masyarakat, itu masih perlu ditelusuri lagi,” pungkasnya. (ber/bob)




