Kota Malang, blok-a.com – Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menggelar kegiatan bertajuk Rame-rame Pasar Hijau di Malang Creative Center (MCC), Jumat (2/10/2026).
Kegiatan tersebut diisi dengan pameran produk UMKM sekaligus talkshow yang membahas ketahanan pangan, lingkungan, dan pengembangan UMKM hijau di kawasan perkotaan.
Kegiatan ini digelar KRKP bersama Lokahita dan Pemerintah Kota Malang. Lebih dari 40 UMKM kuliner binaan KRKP turut ambil bagian dengan memamerkan produk mereka.
Koordinator Nasional KRKP Abdullah Said mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan konsep Green Entrepreneurship atau kewirausahaan hijau kepada pelaku UMKM.
Menurutnya, pelaku usaha tidak hanya perlu memperhatikan aspek bisnis, tetapi juga dampak produk terhadap lingkungan, mulai dari penggunaan bahan baku, kemasan hingga pengelolaan limbah.
“Pola konsumsi anak muda cenderung instan dan seragam, serta menyisakan banyak sampah makanan. Ini menjadi tantangan besar. Oleh sebab itu, pendekatan kami tidak hanya sekadar produksi, tetapi membangun ekosistem dari hulu ke hilir berbasis sistem,” kata Said.
Ia menyebut Kota Malang menjadi salah satu lokasi pilot project program Pangan Kota Kita bersama Bogor. Menurutnya, kondisi Kota Malang yang didominasi konsumen dari kalangan muda menjadi salah satu pertimbangan.
KRKP, lanjut Said, juga mendorong pelaku usaha muda untuk menghasilkan produk pangan yang sehat dan ramah lingkungan.
“Jadi tidak sekadar berwirausaha, produknya untung banyak, tapi bikin orang yang mengkonsumsinya sakit, limbahnya dibuang sembarangan. Itu sih yang ingin kita dorong agar ada perubahan perilaku menuju green enterpreneur,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Hamid Sangadji mengatakan, persoalan pangan di perkotaan seperti Kota Malang perlu dilihat sebagai sebuah sistem.
Menurutnya, pertumbuhan penduduk dan mobilitas yang tinggi sebagai kota pendidikan dan wisata berjalan beriringan dengan keterbatasan lahan pertanian.
Karena itu, ia mendorong adanya penguatan ketersediaan pangan sekaligus penganekaragaman konsumsi pangan.
“Tak hanya dalam konteks ketersediaan pangan saja, termasuk pada konsep keanekaragaman. Jadi kalau di sini pangan seharusnya bisa beragam, sehingga masyarakat punya pilihan. Hari ini mau makan nasi, atau mau makan ubi, atau mau makan jagung, dan sebagainya,” katanya.
Hamid juga mengapresiasi Pemkot Malang yang mulai menyusun Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Sumberdaya Lokal (RAD-PG BPSDL).
“Pemkot Malang ini rupanya sudah ‘nyuri start’. Itu yang patut diapresiasi. Ke depan kota berharap rencana itu terus berprogres, mulai regulasi, bagaimana ketersediaannya, konsumsinya, sampai kepada evaluasi dan monitoringnya,” ujarnya.
Dari Pemkot Malang, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtang Kota Malang Elfiatr Roikhah mengatakan, pemerintah saat ini juga mengembangkan pertanian perkotaan atau urban farming.
“Ada 115 kelompok urban farming di 57 kelurahan yang telah kami bina. Salah satu bentuk inovasinya adalah kerja sama dengan Universitas Brawijaya untuk mengembangkan ubi varietas Brawijaya yang dibudidayakan menggunakan sistem karung. Ini langkah efisien untuk memanfaatkan lahan yang terbatas,” ungkap Elfiatr.
Ia menambahkan, Pemkot Malang juga mendorong penerapan konsep circular economy, termasuk dalam pengelolaan sisa pangan.
Menurutnya, sampah sisa pangan di Kota Malang diperkirakan mencapai sekitar 300 ton per hari. Limbah tersebut diupayakan dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik, pakan ternak maupun pakan ikan.
Sementara itu, Dosen dan Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Adi Setiawan menyoroti pentingnya efisiensi pemanfaatan lahan pertanian.
Ia menyebut peningkatan indeks panen, vertical garden, permakultur pekarangan hingga teknologi pengelolaan air dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi keterbatasan lahan.
“Lahan pangan tidak bisa dielakkan dari pengalihan fungsi. Maka, strategi taktisnya yaitu meningkatkan efisiensi lewat vertical garden, permakultur pekarangan dan mengoptimalkan indeks panen agar dalam satu tahun frekuensi panen bisa meningkat,” katanya.
Menurut Adi, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas lahan.
“Air menjadi kunci paling menentukan. Problem air akan mengakibatkan indeks panen menurun dan juga ketahanan pangan menjadi rendah,” pungkasnya. (bob)




