Pedagang Pasar Kota Malang: Harga Beras Premium Naik Sementara Bulog Suplai Tak Menentu

Ilustrasi beras (foto : Widya Amalia/Blok-A.com)
Ilustrasi beras di Pasar Gadang Kota Malang (foto : Widya Amalia/Blok-A.com)

Kota Malang, blok-a.com – Harga beras premium di Kota Malang alami kenaikan tinggi. Kenaikan harga beras premium itu naik beberapa bulan terakhir.

Kenaikan harga beras premium itu terpantau naik di Pasar Klojen Kota Malang. Salah satu pedagang sembako di Pasar Klojen, Dede menjelaskan, harga beras premium itu dipatok dengan harga Rp 15-17 ribu per kilogram atau antara Rp 75-85 ribu untuk kemasan 5 kilogram.

“Beras premium ini harganya naik terus. Naiknya ya sebelum Pemilu itu, stabil naik terus. Rata-rata naiknya Rp 5-10 ribu. Barangnya sulit, gak tau apa faktornya,” kata dia.

Dede juga menjelaskan, dia juga mengeluhkan bahwa selain harga beras naik, juga suplai beras yang tidak menentu.

Suplai beras yang tidak menentu itu terjadi pada ketersediaan beras dari Bulog. Saat diwawancara pada Rabu (21/2/2024), ketersediaan beras dari Bulog ini tengah kosong dan terjadi sejak beberapa hari terakhir.

Beras Bulog ini pun banyak dicari pembeli di lapaknya. Sebab menjadi pilihan karena beras premium yang harganya naik.

“Sekarang pembeli banyak yang ngeluh karena harga beras premium tinggi. Jadi banyak yang cari beras Bulog. Tapi beras Bulog gak ajek (tak konsisten) suplainya. Ini sudah 3 hari habis,” kata dia.

Harga beras Bulog di lapaknya sendiri sebarga Rp 11 ribu per kilogram atau Rp 100 lebih mahal dari HET yakni Rp 10.900.

Sementara itu, kenaikan harga beras ternyata juga diikuti
dengan kenaikan harga sembako lain, seperti kedelai, tepung, dan lainnya.

Kenaikan harga beras dan berimbas ke sembako lainnya ini ternyata dikeluhkan pembeli di lapaknya.

Keluhan itu tidak bisa dijawab oleh Dede. Dia hanya pasrah dengan keluhan pembeli.

Sementara di sisi lain Dede berharap pemerintah bisa memberikan kebijakan terkait pengendalian harga sembako.

“Jangan momen-momen penting kayak Pemilu ini menganggu perekonomian. Kami perlu kebijakan yang konsisten, biarlah masyarakat ikut pemilu, tapi jangan sampai ganggu kebijakan. Kalau kayak gini kan rakyat yang kasihan,” kata dia. (mg1/bob)

Exit mobile version