Kabupaten Malang, blok-a.com – Pramugari Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya disiapkan untuk memberikan pelayanan ramah kepada penumpang dengan latar belakang dan kebutuhan berbeda. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah menggunakan bahasa daerah saat membantu penumpang lanjut usia (lansia).
Sela Nadin Kartika Putri, salah satu pramugari Trans Jatim Koridor 2, mengatakan pelayanan menjadi bekal utama sebelum bertugas di dalam bus. Selain melayani tiket, pramugari juga bertanggung jawab menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang.
“Yang utama adalah pelayanan. Kami melayani penumpang di transportasi umum, termasuk membantu pembelian tiket. Karena itu, kami harus bisa melayani pelanggan dengan ramah sekaligus menjaga keamanan,” kata Nadin.
Ia menjelaskan, para pramugari telah memiliki pengalaman di bidang pelayanan sebelum bergabung dengan Trans Jatim. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk memahami standar operasional prosedur (SOP) dan menghadapi kebutuhan masyarakat.
Dalam memberikan edukasi kepada penumpang lansia, pramugari akan mengutamakan penggunaan bahasa yang mudah dipahami. Nadin menyebut bahasa Jawa krama alus dapat digunakan, termasuk bahasa Madura bagi penumpang yang lebih akrab dengan bahasa tersebut.
“Untuk lansia, kami mengutamakan penggunaan bahasa daerah masing-masing, seperti bahasa Jawa krama alus. Jika penumpang lebih akrab dengan bahasa Madura, kami juga akan berusaha menggunakannya. Apabila ada bahasa yang sulit dipahami, kami menggunakan bahasa Indonesia,” jelasnya.
Selain pendekatan komunikasi, bus Trans Jatim juga menyediakan kursi prioritas berwarna merah bagi lansia, ibu hamil, ibu yang membawa anak, serta penumpang yang sedang sakit.
Pramugari lainnya, Amira Shafa Lutfia, yang turut bertugas dalam pelayanan Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya mengatakan, pengaturan tempat duduk juga dilakukan untuk membantu mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Penumpang perempuan diarahkan duduk di bagian depan, sedangkan penumpang laki-laki berada di bagian belakang mulai baris ketiga.
“Kami menyediakan kursi prioritas bagi lansia, ibu hamil, ibu yang membawa anak, dan penumpang yang sedang sakit. Kursi tersebut berada di bagian berwarna merah,” ujarnya.
Sebelum mulai bertugas, pramugari Trans Jatim Koridor 2 mengikuti pelatihan selama enam hari. Pelatihan terdiri dari tiga hari pembekalan materi, pengenalan Trans Jatim dan grooming, kemudian dilanjutkan tiga hari training.
Amira menyebut pelatihan dilakukan secara maksimal karena persiapan operasional berlangsung dalam waktu terbatas.
Dalam menjalankan tugas, pramugari mengikuti jadwal perjalanan atau timetable. Pada shift pagi terdapat dua pramugari dengan empat rit atau dua perjalanan pulang-pergi (PP), sedangkan shift siang menjalani satu PP.
Satu rit perjalanan dari terminal keberangkatan menuju terminal tujuan diperkirakan memakan waktu sekitar satu setengah jam. Dengan pola tersebut, durasi kerja pramugari berkisar enam hingga tujuh jam, sementara shift malam memiliki durasi lebih singkat.
Amira mengaku tertarik bergabung sebagai pramugari Trans Jatim karena memiliki latar belakang pelayanan. Ia juga merupakan pengguna Trans Jatim sehingga dapat memahami pengalaman penumpang dari sisi pengguna layanan.
“Menjadi pelayan transportasi merupakan konsekuensi yang harus dijalani. Masyarakat memiliki karakter dan kebutuhan yang beragam, tetapi kami harus tetap memperlakukan setiap orang dengan ramah. SOP kami juga mengutamakan hal itu,” pungkasnya. (yog)




