Kota Malang, blok-a.com – Sejumlah sopir angkot yang tergabung dalam Front Aliansi Supir Angkutan Malang (ASAM) menolak rencana peluncuran Koridor 2 sebelum persoalan Koridor 1 diselesaikan. Penolakan tersebut disampaikan saat mereka menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Dishub Kota Malang Senin (28/9/2026).
Ketua Front ASAM, Andre mengatakan, persoalan Koridor 1 selama ini berdampak terhadap sekitar 494 sopir angkot atau mikrolet di Kota Malang dan sebagian wilayah Kabupaten Malang.
Ia menegaskan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak sejak Juli, termasuk Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. Namun, mereka kemudian diarahkan untuk berkoordinasi dengan pihak provinsi.
“Kami sudah berusaha berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk Dishub Kota Malang. Kami diarahkan ke provinsi. Ketika di provinsi, kami sudah melakukan audiensi,” ujar Andre saat diwawancarai awak media.
Ia menyebut dalam audiensi tersebut telah terdapat notulensi berisi kesepakatan bersama pada 29 Juli 2023. Namun, Andre mengklaim kesepakatan tersebut hingga kini belum terealisasi.
“Di situ ada notulensi yang sudah tertuang dalam kesepakatan bersama pada tanggal 29 bulan 7 tahun 2023. Sampai detik ini tidak terealisasi,” tuturnya.
Andre menjelaskan, para sopir yang terdampak meminta adanya penyelesaian dan pertanggungjawaban atas persoalan yang mereka alami.
“Makanya, dalam hal ini kami menuntut keras bersama teman-teman mikrolet yang ada selama ini, khususnya korban dari 494 orang tersebut, untuk mendapatkan keadilan dan pertanggungjawaban. Selama ini mereka dirugikan,” jelasnya.
Selain persoalan tersebut, Front ASAM juga menyoroti keberadaan halte pada Koridor 1. Andre menyebut kondisi di lapangan dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal.
“Kalau terkait halte, itu dari rekan-rekan yang selama ini di lapangan tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Halte tersebut semakin banyak dan semakin merugikan rekan-rekan,” bebernya.
Ia juga menyinggung persoalan dana scraping yang disebut telah turun berdasarkan informasi dari pihak Dishub Kota Malang dan Provinsi Jawa Timur. Namun, Andre mengaku para sopir tidak merasa menerima dana tersebut.
“Adanya dana scraping, rekan-rekan tidak ada yang merasa menerima,” imbuhnya.
Selain itu, Andre menyebut adanya istilah dana abadi dalam persoalan tersebut. Namun, ia mengaku tidak mengetahui pihak yang memberikan maupun menerima dana tersebut.
“Dan adanya juga bahasa dari dana abadi, tapi di sini juga tidak tahu siapa yang memberi dan siapa yang menerima,” tandasnya.
Atas persoalan tersebut, Front ASAM menyatakan tetap menolak peluncuran Koridor 2 sampai persoalan Koridor 1 diselesaikan.
“Rekan-rekan tidak mau meluncurnya Koridor 2 sebelum permasalahan Koridor 1 selesai,” pungkas Andre. (yog)




