Kota Malang, blok-a.com – Trans Jatim Koridor 2 Malang telah resmi beroperasi. Tidak seperti rencana sebelumnya yang bakal melibatkan Terminal Arjosari sebagai Origin Destination (OD), Trans Jatim Koridor 2 menetapkan Terminal Madyopuro.
Namun, penetapan tersebut bisa berubah dari hasil evaluasi. Terminal Madyopuro kemungkinan bisa berpindah ke Terminal Arjosari.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, menilai penetapan Terminal Madyopuro sebagai titik awal dan akhir perjalanan Trans Jatim Koridor 2 kurang tepat.
Menurutnya, keberadaan Terminal Madyopuro belum mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat secara luas. Hal itu terlihat dari minimnya informasi dan belum maksimalnya layanan selama beberapa hari awal operasional.
“Menurut saya sangat tidak tepat Madyopuro itu. Artinya dan kalau tadi melihat 1-2 hari berjalan ini kan sepi informasinya. Tidak, tidak maksimal, karena memang tidak mampu mengoneksikan kebutuhan masyarakat dengan kebijakan Trans Jatim periode kedua ini,” ujar Dito.
Dari pantauan blok-a.com pada Selasa (3/11/2026), kondisi Terminal Madyopuro terpantau cukup lengang. Tidak terlihat calon penumpang yang menunggu kedatangan bus Trans Jatim Koridor 2 di halte tersebut.
Padahal, layanan Trans Jatim Koridor 2 masih digratiskan hingga Jumat (6/11/2026).
Meski demikian, fasilitas halte di Terminal Madyopuro terbilang cukup nyaman bagi calon penumpang. Tersedia tempat duduk, stop kontak untuk mengisi daya handphone, serta papan informasi yang menunjukkan jadwal kedatangan bus Trans Jatim.
Dito menyebut, sebelumnya masyarakat juga telah mendorong agar Trans Jatim Koridor 2 melewati Terminal Arjosari. Aspirasi tersebut juga telah dikomunikasikan kepada Wali Kota Malang, Sekretaris Daerah hingga Ketua DPRD Kota Malang.
Dito mengatakan, sejumlah pihak tersebut sepakat agar Trans Jatim Koridor 2 dapat melalui Terminal Arjosari yang berstatus terminal tipe C.
Karena itu, ia mendorong adanya evaluasi rute dalam waktu dekat. Bahkan, perubahan titik Origin Destination (OD) dari Terminal Madyopuro ke Terminal Arjosari dinilai sangat memungkinkan.
“Sehingga, kita mendorong harus ada evaluasi. Harus ada evaluasi rute,” katanya.
Dito mengusulkan evaluasi dapat dilakukan setidaknya dalam satu minggu ke depan atau selama November 2026.
Menurutnya, Terminal Arjosari memiliki potensi menjangkau penumpang lebih luas karena menjadi simpul transportasi yang melayani berbagai moda dan perjalanan antardaerah.
Terminal tersebut juga memiliki aktivitas bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKDP), serta terminal tipe A dan C.
“Kalau targetnya adalah menghubungkan, ya masyarakat Malang Raya ini ketika pintu masuknya adalah di Arjosari,” jelasnya.
Ia menilai, apabila titik awal dan akhir perjalanan tetap berada di Terminal Madyopuro, jangkauan penumpang cenderung terbatas pada masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Sebaliknya, Terminal Arjosari dinilai lebih strategis untuk menjaring penumpang dari berbagai wilayah.
“Jadi cari penumpang ya di Terminal Arjosari, bukan di Madyopuro. Nah, artinya dari beberapa hari ini harus dilakukan analisa dan juga evaluasi,” ungkap Dito.
Di sisi lain, Dito menilai keberadaan layanan feeder dapat menjadi solusi untuk mengakomodasi angkutan lokal yang sebelumnya menginginkan Trans Jatim Koridor 2 tetap melalui kawasan Madyopuro maupun Mulyorejo.
Menurutnya, feeder dapat menjangkau kawasan perumahan dan menghubungkan masyarakat dengan halte atau titik layanan Trans Jatim.
“Lah, sebetulnya sistem feeder itu kan bisa menjawab keinginan teman-teman angkot yang minta Madyopuro, Mulyorejo. Itu kan bisa melalui feeder,” tuturnya.
Terkait kekhawatiran perubahan rute Trans Jatim Koridor 2 akan memengaruhi trayek bus antarkota, Dito menilai setiap layanan memiliki segmentasi penumpang tersendiri.
Ia menyebut, konektivitas antarmoda transportasi dan antarterminal menjadi salah satu tujuan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan layanan tersebut.
“Artinya, sudah ada segmentasinya sendiri dan saya kira kalau kemudian kekhawatiran terhadap apa bis yang kemudian arahnya ke Panjer, ke kota, ke Blitar dan sebagainya, itu sudah dilakukan kajian dan analisa oleh teman-teman di Dishub,” pungkasnya. (bob)




