Wali Kota Malang Kunjungi “Desa Malang” di Matos, Sempat Berkelakar soal ‘Mal Terkecil di Dunia’

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat di spot “Desa Malang” di Matos, Kamis (12/3/2026) (blok-a/Bob Bimantara Leander)
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat di spot “Desa Malang” di Matos, Kamis (12/3/2026) (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyempatkan diri mengunjungi salah satu sudut tematik di lantai 1 Malang Town Square (Matos), Rabu (12/3/2026). Area tersebut menghadirkan konsep “Desa Malang” yang menampilkan suasana kampung tempo dulu lengkap dengan jajanan tradisional serta permainan lawas.

Di spot tersebut, pengunjung dapat merasakan nuansa desa yang dibuat sederhana namun khas. Terdapat dingklik atau kursi kecil serta meja kecil yang biasa digunakan warga kampung tempo dulu untuk duduk santai sambil menikmati jajanan.

Latar belakang area tersebut juga dibuat menyerupai suasana desa yang asri, dengan dekorasi rumah kayu serta lantai yang dilapisi rumput sintetis, sehingga memberikan kesan seperti berada di halaman rumah pedesaan.

Saat berada di lokasi itu, Wahyu terlihat menikmati suasana nostalgia yang dihadirkan. Ia bahkan membeli gelas enamel, yang identik dengan peralatan makan dan minum pada masa lampau.

Tak hanya itu, Wahyu juga sempat bermain dakonan, permainan tradisional yang dulu populer di kalangan anak-anak. Ia memainkan permainan tersebut bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kota Malang serta pimpinan Matos.

Di sela kunjungannya, Wahyu juga berkelakar menyinggung viralnya konten media sosial yang menyebut Malang sebagai “Desa Malang”.

“Desa Malang di Malang yang terkecil di dunia,” ujar Wahyu sambil tertawa.

Konsep “Desa Malang” sendiri muncul setelah viralnya video pendek dari akun @caeinmotion di media sosial. Dalam video tersebut, pemilik akun menyebut Malang sebagai “Desa Malang” dan menyebut Matos sebagai mal terkecil di dunia.

Video tersebut sempat viral dan memicu berbagai respons, termasuk kritik dari sejumlah warga Malang di media sosial.

Menurut Wahyu, konsep yang dihadirkan di area tersebut justru menjadi cara untuk menghidupkan kembali memori tentang Malang tempo dulu.

“Konsepnya ini seperti ‘Menolak Lupa’. Kita kembali ke Malang yang dulu seperti apa. Permainan-permainan seperti ini ingin kita semarakkan lagi,” ujarnya. (bob)

Exit mobile version