Fraksi Gerindra DPRD Kota Malang Kritik Anggaran Retreat Kepala Sekolah Rp300 Juta

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Malang, Danny Agung Prasetyo (foto: dok. Danny for blok-a.com)
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Malang, Danny Agung Prasetyo (foto: dok. Danny for blok-a.com)

Kota Malang, blok-a.com – Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Malang, Danny Agung Prasetyo memberikan kritik atas rencana Pemkot Malang menggelar retreat kepala sekolah dengan anggaran sekitar Rp300 juta. Menurutnya, anggaran tersebut lebih baik dialihkan untuk membantu siswa kurang mampu dan memberikan beasiswa kepada atlet berprestasi.

Rencana retreat kepala sekolah SD dan SMP negeri maupun swasta tersebut disiapkan Pemkot Malang setelah munculnya dugaan kekerasan terhadap siswa di SMPN 18 Malang yang melibatkan mantan kepala sekolah.

Danny menilai evaluasi dan pembinaan mental kepala sekolah memang diperlukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Namun, menurutnya, kegiatan tersebut tidak harus dikemas dalam bentuk retreat yang membutuhkan anggaran hingga ratusan juta rupiah.

Ia mengusulkan agar seluruh kepala sekolah cukup dikumpulkan dalam satu forum untuk mendapatkan pembekalan mengenai etika, moral, serta tanggung jawab dalam mengelola sekolah.

Menurutnya, Kota Malang memiliki banyak kalangan akademisi di bidang pendidikan yang dapat dilibatkan untuk memberikan pembinaan kepada para kepala sekolah.

“Kalau retreat itu menggunakan uang anggaran APBD senilai Rp300 juta, sebaiknya itu jangan retreat-lah. Dikumpulkan saja semua kepala sekolah SD, SMP. Di Kota Malang ini gudangnya akademis pendidikan, sehingga Kota Malang mendapatkan julukan Kota Pendidikan,” ujar Danny.

Ia menambahkan, persoalan etika dan moral perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sekolah. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab untuk membina guru, termasuk menangani pelanggaran yang terjadi di lingkungan sekolah sesuai ketentuan yang berlaku.

Danny kemudian menyoroti penggunaan anggaran tersebut. Menurutnya, dana Rp300 juta akan lebih bermanfaat apabila dialokasikan untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu.

Ia mencontohkan dugaan kekerasan di SMPN 18 Malang yang mencuat setelah persoalan seragam. Menurut Danny, pemerintah dapat memetakan siswa yang membutuhkan bantuan, kemudian mengalokasikan anggaran untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.

“Daripada uang Rp300 juta itu dibuat retreat, lebih baik itu dianggarkan untuk teman-teman murid yang kurang beruntung. Salah satu contoh kemarin kejadian di SMPN 18 itu gara-gara seragam. Wis belikan seragam aja uang Rp300 juta. Dideteksi siapa siswa-siswa yang kurang beruntung,” tegasnya.

Selain bantuan untuk siswa kurang mampu, Danny mengusulkan agar anggaran tersebut dipertimbangkan untuk mendukung atlet berprestasi asal Kota Malang melalui pemberian beasiswa.

Ia menyinggung keterbatasan anggaran dalam pemberangkatan atlet Kota Malang ke Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Jawa Timur 2026. Dari total hampir 400 atlet, Kota Malang hanya dapat memberangkatkan sekitar 200 atlet karena keterbatasan anggaran.

Menurut Danny, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan Pemkot Malang dalam menentukan prioritas penggunaan anggaran. Ia menilai atlet yang berjuang membawa nama daerah juga perlu mendapatkan apresiasi, termasuk melalui dukungan biaya pendidikan.

Danny mengaku memahami tantangan dalam mencari dan membina atlet berprestasi. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Kota Malang sebelum mengundurkan diri dari kepengurusan tersebut.

Pengalaman itu, menurutnya, membuat dukungan dan apresiasi terhadap atlet menjadi hal penting agar pembinaan prestasi olahraga dapat terus berjalan.

“Jadi atlet berprestasi itu perlu yang namanya dikasih apresiasi, dikasih reward. Dan beasiswa itu bentuk daripada reward terhadap atlet yang berprestasi, khususnya di bidang olahraga,” katanya.

Danny pun secara tegas menilai rencana penggunaan anggaran Rp300 juta untuk retreat sebagai pemborosan apabila dibandingkan dengan kebutuhan siswa kurang mampu dan atlet berprestasi yang menurutnya perlu diprioritaskan.

“Daripada buat retreat, pemborosan itu lebih baik dilakukan untuk biaya murid yang kurang beruntung atau untuk biaya atlet prestasi yang sudah mengharumkan Kota Malang, dikasih reward untuk masalah beasiswa atlet berprestasi olahraga,” ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan retreat kepala sekolah disiapkan sebagai bagian dari evaluasi dan introspeksi terhadap berbagai persoalan di lingkungan pendidikan Kota Malang.

Wahyu menyebut kegiatan tersebut akan diikuti seluruh kepala sekolah SD dan SMP di Kota Malang. Pelaksanaannya ditargetkan pada akhir 2026 dan harus disesuaikan agar tidak mengganggu proses pembelajaran.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana, menyebut anggaran kegiatan bersumber dari APBD dengan nilai sekitar Rp300 juta. Retreat ditargetkan berlangsung paling lambat November 2026.

Kegiatan tersebut dirancang tanpa menginap, dengan perpaduan materi di dalam kelas dan pembinaan bernuansa militer. Berdasarkan data Disdikbud, peserta diperkirakan mencapai sekitar 345 kepala sekolah, terdiri dari 225 kepala sekolah negeri dan 120 kepala sekolah swasta. (bob)

Exit mobile version