Kota Malang, blok-a.com – Untuk para warga Kota Malang atau pengunjung dari luar kota yang berkunjung ke kawasan wisata Kayutangan Heritage pasti sudah tidak asing dengan adanya akuarium ikan koi yang terpasang di Taman Tugu Adipura Kencana.
Adanya akuarium di tengah taman ini terbilang unik karena jarang ditemukan di taman-taman lain baik di Malang Raya maupun di daerah lain.
Keunikan ini lah yang membuat akuarium tersebut sempat mendapatkan respon beragam dari warga Kota Malang. Kepala Bidang RTH DLH Kota Malang Laode KB Al Fitra pun mengatakan bahwa banyak respon negatif yang muncul di awal-awal pemasangan akuarium itu.
“Wah, di awal-awal itu macam macam responnya, ada yang menghujat, ada yang mempertanyakan ‘apa gak mati itu koi ditaruh di situ’, ada yang komentar juga ‘kasihan petugas yang membersihkan lumut setiap hari’. Macam-macam,” cerita Laode.
Walau banyak respon kurang menyenangkan, namun DLH Kota Malang tak gentar untuk tetap menjaga eksistensi akuarium itu. Hal ini karena akuarium itu dilengkapi dengan berbagai fitur mutakhir yang dapat menjaga fungsi maksimal akuarium sebagai tempat hidup ikan koi.
“Yang banyak orang tidak tahu, di akuarium itu dilengkapi berbagai fitur mutakhir lho. Jadi ada filter air bertingkat, pengontrol suhu, lalu aerator untuk kualitas oksigen, bahkan sinar ultra violet untuk mengontrol populasi mikroba. Semuanya dengan perhitungan yang matang sekali. Tapi kan tidak kelihatan, karena letaknya ada di kotak di bawah akuarium itu,” terang Laode.
Ia menambahkan, dalam membangun akuarium itu, pihak DLH mengajak seorang ahli akuarium kelas internasional.
“Kami memang mengajak ahli akuarium. Bukan ahli aquascape ya, tapi ahli akuarium yang menangani akuarium-akuarium outdoor di berbagai negara. Jadi standarnya dari awal sudah sangat tinggi,” ujar Laode.
Karenanya, standar yang diterapkan demi menjaga kualitas hidup penghuni akuarium itu berbeda dengan akuarium rumahan.
“Internasional itu kelasnya. Contohnya kaca akuarium itu super kuat lho. Uji kualitasnya saja dengan dimasuki dua orang anggota yang badannya besar-besar, dipakai berenang dan lompat-lompat. Bocor setetes pun tidak. Apalagi retak atau pecah,” jelasnya.
Terkait dengan warna air akuarium yang tidak seratus persen jernih, ternyata hal itu juga mengikuti perhitungan kualitas hidup penghuni akuarium.
“Air yang kurang jernih itu kan karena ada mirkoba, ada algae, yang hidup di dalam airnya. Memang tidak kami musnahkan seratus persen karena hal ini berhubungan dengan ekosistem akuarium. Jadi yang kami jaga itu ekosistem akuarium, bukan Cuma ikan koinya. Yang penting kan ikannya masih bisa terlihat berenang sehat dari luar,” terang Laode.
Untuk pembersihan akuarium sendiri, Laode mengatakan bahwa para petugas yang bekerja adalah petugas yang bertugas membersihkan kolam-kolam milik DLH. Pembersihan ini dilakukan rutin.
“Yang bertugas itu rekan-rekan yang biasanya membersihkan kolam. Mereka itu lebih suka lho membersihkan akuarium daripada membersihkan kolam karena lebih gampang. Dibandingkan dengan membersihkan kolam itu, mereka harus menggosok kolam, menguras, dan lain-lain. Makanya beberapa itu bilang ‘pak, semua kolamnya ganti akuarium saja, lebih gampang dan gak capek’,” terang Laode sembari tertawa.
Dengan berbagai fitur dan lengkapnya fasilitas berkelas internasional penunjang ekosistem akuarium, Laode menghimbau masyarakat Kota Malang agar dapat menjaga salah satu landmark tersebut.
“Akuariumnya sudah kualitas terbaik, perawatannya juga sudah maksimal. Ayo lah kita jaga landmark ini sebagai salah satu fasilitas umum terbaik di Kota Malang. Jangan malah diusili seperti dimasuki lele seperti kemarin, karena dampaknya jelas kan, ekosistem akuarium terganggu hingga beberapa ikan mati,” himbaunya.




