Masyarakat Diajak Fungsikan Lagi JPO di Kota Malang

Kondisi Miris Jembatan Penyeberangan di Kota Malang, Tak Lagi Digunakan Karena Berbahaya
Kondisi Miris Jembatan Penyeberangan di Kota Malang, Tak Lagi Digunakan Karena Berbahaya

Kota Malang, blok-a.com – Jembatan penyeberangan orang (JPO) adalah salah satu fasilitas yang disediakan untuk membantu pejalan kaki menyeberang jalan. Kota Malang sendiri memiliki 5 fasilitas JPO yang tersebar di jalan-jalan yang dilalui oleh kendaraan berkecepatan kencang seperti di Jalan A Yani dan wilayah Kayutangan Heritage.

Namun adanya fasilitas ini bukan berarti membuat masyarakat akan serratus persen meliriknya untuk digunakan sebaik-baiknya. Contohnya JPO di Jalan Jaksa Agung Suprapto atau di depan RSSA.

Di Lokasi tersebut, pengamatan lapangan Blok-A.com menemukan dari 10 orang yang hendak menyeberang dari parkir motor depan Polresta Malang Kota ke RSSA, 6 diantaranya memilih menyeberang dari bawah dan 4 orang saja yang menyeberang lewat JPO.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Widjaja Saleh Putra mengatakan bahwa masyarakat memang masih perlu diberikan pemahaman terkait penggunaan JPO. Apalagi muncul wacana pembangunan JPO di Jalan Bandung yang fungsinya untuk meminimalisir kepadatan kendaraan.

“JPO memang ini perlu pembiasaan ya. Fungsi JPO itu adalah untuk menghindari kecelakaan, supaya masyarakat memanfaatkannya karena sudah sesuai dengan perhitungan arus lalu lintasnya. Memang di situ perlu menggunakan jembatan penyeberangan orang,” terang sosok yang akrab disapa Djaja tersebut.

Ia juga mengatakan akan menggandeng pihak kepolisian dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang agar bisa melakukan sosialisasi semenjak dini kepada masyarakat terkait fungsi JPO.

“Ini lah yang kami lakukan (sosialisasi), bersama-sama dengan Polresta Malang Kota, insyaallah dengan Dindikbud juga mulai dari SD,” ujar Djaja.

Ia menyebut penanaman kebiasaan baik dari usia dini sangatlah penting, karena membangun sebuah karakter masyarakat diperlukan waktu yang lebih lama daripada membangun sebuah fasilitas secara fisik. Apalagi anak-anak menyerap pengajaran karakter bagaikan spons, sehingga diharapkan sosialisasi semenjak dini ini akan efektif untuk membangun karakter baik.

“Membangun sosial ini perlu waktu yang cukup, tidak bisa seperti membangun fisik. Membangun fisik bisa setahun selesai, tapi membangun karakter itu perlu waktu yang panjang. Harus terus-menerus,” tuturnya. (art/bob)

Exit mobile version