Kabupaten Malang, blok-a.com – Gagasan besar menuju Kabupaten Malang bebas sampah pada 2029 terus ditegaskan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang. Plt Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi harus dimulai dari rumah.
Pria yang akrab disapa Avi ini mengatakan DLH Kabupaten Malang telah merancang peta penanganan untuk mengelola dan mengatasi permasalahan sampah.
“Penanganan sampah setiap hari yang kita hasilkan di Kabupaten Malang ini ada roadmap atau peta jalan penanganan sampah,” katanya.
Avi menjelaskan bahwa peta jalan itu menjadi pedoman agar arah dan tujuan penanganan sampah tidak salah jalur. Sehingga, apa yang ditargetkan yakni Zero Waste 2029 bisa diwujudkan.
“Kalau kita ingin melakukan perjalanan harus punya peta, sehingga targetnya tahu harus ada di mana dan cara mencapainya bagaimana,” ujarnya.
Target besar Kabupaten Malang dijelaskan Avi ialah zero waste dan zero landfill pada 2029. Targetnya yakni mengelola sampah yang masuk ke TPA yang ada di Kabupaten Malang.
“Kita berbicara di Kabupaten Malang di 2029 itu ada zero waste, zero landfill. Itu menyelesaikan sampah yang masuk ke TPA dan menyelesaikan TPA itu sendiri,” tegasnya.
Karena itu, Avi menilai seluruh lapisan harus terlibat, mulai dari rumah tangga hingga pengelolaan di TPA. Menurutnya, permasalahan sampah harus diselesaikan dari hulu hingga hilirnya.
“Perlu penanganan di seluruh lapisan dan lini. Ada di level hulu atau level rumah tangga, di tengah itu komunitas, dan hilir di TPA,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa TPA bukan sekadar lokasi membuang sampah. Terlebih, saat ini dalam pandangan umum masyarakat TPA merupakan tempat pembuangan bukan sebagai tempat pemrosesan.
“Harus dipahami, TPA bukan tempat pembuangan akhir, tapi tempat pemrosesan. Maka dari itu kita selalu mengingatkan, bukan tempat membuang. Di sana tempat memproses setelah diproses sebelumnya dari hulu ke tengah supaya endingnya zero waste,” tambahnya.
Menurutnya, kolaborasi dari semua lini menjadi syarat utama keberhasilan target tersebut. “Endingnya, jika mau sampai ke zero waste, semua ini harus berkolaborasi. Kita mulai dari hulu dulu,” tambahnya.
Sementara itu, pegiat lingkungan Kabupaten Malang, Yayuk Hidayati, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak akan selesai jika masyarakat tetap mengandalkan TPA. “Sampah itu tidak habis, tapi terus bertambah karena kita setiap hari memproduksi sampah,” ujarnya.
Ia bersama komunitasnya terus mendorong pemilahan sampah dilakukan sejak dalam rumah. Ia berkolaborasi dengan DLH Kabupaten Malang terus mensosialisasikan kepada masyarakat agar sampah dikelola dari rumah dan tidak mencapai tempat sampah yang ada di luar rumah.
“Kita berusaha habis dari rumah. Harus ada pilah sampah di rumah. Sampah tidak sampai ke tempat sampah di luar rumah, tapi habis di tempat sampah dalam rumah,” kata Yayuk.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan DLH menjadi penguat gerakan pengurangan sampah dari hulu.
“Kita terus gencarkan sosialisasi sehingga ibu-ibunya mengerti dan tidak sampai membuang sampah ke depan. Itu kolaborasi dengan DLH,” ujarnya. (yog/bob)




