Malang, blok-a.com – Sejumlah warga mempertanyakan hasil pengecekan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Keluhan muncul setelah sebagian warga mengetahui dirinya masuk desil 6 hingga 10, meski merasa kondisi ekonomi sehari-hari tidak mencerminkan kelompok masyarakat berpenghasilan lebih tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinsos P3AP2KB Kota Malang Muhamad Sailendra mengatakan masyarakat yang merasa hasil desilnya tidak sesuai dapat mengajukan sanggahan. Sanggahan bisa disampaikan melalui kelurahan maupun langsung ke Dinsos.
“Bisa memberi apa itu, sanggahan, ya. Melalui kelurahan, di situ ada nanti diarahkan kepada petugas TKS (Tenaga Kesejahteraan Sosial), atau langsung ke Dinsos menyampaikan permasalahannya. Nanti kita akan verifikasi lagi, verifikasi lapangan. Kenapa dia merasa tidak sesuai?” ujar Sailendra.
Menurutnya, masyarakat terkadang belum memahami indikator yang digunakan dalam menentukan desil. Sebab, penilaian kondisi sosial ekonomi tidak hanya dilihat dari kondisi rumah atau pendapatan yang dirasakan masyarakat.
Ia mencontohkan kemampuan seseorang dalam membayar cicilan kendaraan maupun pinjaman sebagai salah satu hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam melihat kondisi ekonomi.
“Karena seringkali masyarakat juga tidak memahami bahwa kenapa dinyatakan terutama di atas desil 5, ya. ‘Kok saya masuk desil 6 atau 7, padahal kondisi saya, rumah saya, pendapatan saya gini.’ Tapi ternyata dia bisa nyicil sepeda motor, bisa nyicil mobil, pinjol apalagi itu. Itu berarti kan dia bisa bayar. Nah, itu yang menjadi salah satu kendala kenapa desil itu menurut mereka itu tidak sesuai,” jelasnya.
Sailendra juga menyebut penggunaan listrik sebagai salah satu contoh indikator yang dapat menggambarkan kemampuan ekonomi rumah tangga.
“Dia misalkan KWH-nya 900, 1.300… ya mampu dia. Misal, saya nggak bicara ini ya. Tapi kan kalau desil 1, 2 kan rata-rata 450 KWH-nya. Kan gitu,” tuturnya.
Karena itu, warga yang merasa hasil desil DTSEN tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya diminta menyampaikan sanggahan agar dapat dilakukan verifikasi ulang.
“Nanti kita akan verifikasi lagi, verifikasi lapangan. Kenapa dia merasa tidak sesuai?” pungkas Sailendra. (bob)




