Kiai Sableng Ingatkan Maba Unisma Pentingnya Kuasai Kecerdasan Digital

KH Abdullah Sam atau Kyai Sableng saat membekali maba Unisma lewat Halaqoh Diniyah. (foto: blok-a/ M Berril Labiq)
KH Abdullah Sam atau Kyai Sableng saat membekali maba Unisma lewat Halaqoh Diniyah. (foto: blok-a/ M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – KH Abdullah Sam atau yang dikenal sebagai Kiai Sableng menekankan pentingnya kecerdasan digital bagi mahasiswa untuk menghadapi perkembangan zaman. Menurutnya, penguasaan teknologi, termasuk coding dan promosi melalui media sosial, menjadi bekal yang perlu diperhatikan lembaga pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Kiai Sableng saat mengisi Halaqah Diniyah mahasiswa baru Universitas Islam Malang (Unisma) di Gedung Bundar Al-Asy’ari Unisma, Kamis (1/10/2026).

Ia menjelaskan, kecerdasan intelektual atau intelligence quotient (IQ) saja tidak cukup untuk menunjang kehidupan seseorang. Kemampuan emosional, sosial, hingga membangun jaringan juga berperan dalam membuka berbagai peluang.

“Kalau hanya IQ saja, tapi emosional dan sosialnya tidak cerdas, maka sulit jadi orang. Karena sumber rezeki, sumber memperoleh jabatan adalah jaringan,” ujar Kiai Sableng.

Selain kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial, ia juga menyoroti pentingnya digital quotient (DQ) atau kecerdasan digital. Kiai Sableng menyebut, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi perlu menjadi perhatian di lingkungan pendidikan, termasuk kampus, pesantren, madrasah, hingga lembaga pendidikan diniyah.

“Sekarang kampus apa saja, pondok apa saja, kalau meninggalkan promosi di medsos dan tidak menguasai coding dalam urusan ekonomi internasional, pasti kita akan dilindas,” katanya.

Ia mengingatkan lembaga pendidikan agar tidak mengabaikan penguasaan teknologi digital.

“Kalau kita tidak segera menuju ke DQ (Digital Quotient), ya sama saja seperti kita menggali kuburnya sendiri,” lanjutnya.

Di sisi lain, Kiai Sableng juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan tanggung jawab manusia. Ia menyebut tiga hal yang perlu berjalan beriringan, yakni tanggung jawab kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Dikatakannya, penguatan spiritualitas perlu berjalan bersama kepedulian sosial dan lingkungan. Ia mencontohkan, menjalankan ibadah juga perlu diimbangi dengan kepedulian terhadap alam dan upaya menjaga lingkungan.

Kiai Sableng juga mendorong mahasiswa untuk memiliki pandangan jauh ke depan dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ia menilai mahasiswa dan ilmuwan perlu mampu melihat kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Kita harus melompat. Hari ini kalau tidak melompat jauh, sudah enggak cukup yang namanya out of the box. Tapi harus out out out of the box,” ujarnya.

Sebagai informasi, Halaqah Diniyah merupakan rangkaian pembinaan mahasiswa baru Unisma setelah kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus (OSHIKA) selama tiga hari. Kegiatan ini bertujuan memperkuat karakter religius serta pemahaman keislaman Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah bagi mahasiswa baru. (ber)

Exit mobile version