Kota Malang, blok-a.com – Prof. Dr. apt. Yudi Purnomo, M.Kes. dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Islam Malang (Unisma) dalam bidang kepakran biomedik farmasi dalam sidang terbuka senat Universitas Islam Malang (Unisma), Sabtu (9/5/2026) lalu. Ia menyoroti angka diabetes melitus di Indonesia yang terus meningkat, ia juga menyampaikan potensi besar tanaman obat Indonesia sebagai alternatif terapi diabetes dan komplikasinya.
Prof Yudi Purnomo menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Fitokonstituen Antiinflamasi untuk Pengobatan Diabetes Melitus dan Komplikasinya: Pilihan dan Prospek Terapi Masa Depan. Yudi menjelaskan bahwa diabetes melitus masih menjadi persoalan kesehatan serius, baik di tingkat global maupun nasional.
“Diabetes melitus atau DM masih menjadi permasalahan kesehatan di berbagai penjuru negara dunia, termasuk di Indonesia,” ujar Yudi.
Ia menyebut, jumlah penderita diabetes di Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 20,4 juta jiwa dengan prevalensi 11,3 persen dan diprediksi meningkat menjadi 28,6 juta jiwa pada 2045. Indonesia bahkan menempati posisi kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes dan posisi keenam dunia untuk angka kematian akibat penyakit tersebut.
“Diabetes merupakan penyakit kronis yang menimbulkan komplikasi multiorgan dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi,” katanya.
Menurutnya, terapi diabetes yang ada saat ini memang mampu membantu mengontrol kadar gula darah. Namun, penggunaan obat antidiabetes oral dalam jangka panjang masih memiliki berbagai keterbatasan dan efek samping.
“Hal ini mendorong pencarian agen alternatif, khususnya dari tumbuhan obat yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional,” ujarnya.
Dari situlah, Yudi menaruh perhatian besar pada penelitian fitokonstituen antiinflamasi, yakni senyawa bioaktif dari tumbuhan yang dinilai memiliki potensi untuk membantu terapi diabetes dan komplikasinya.
Ia menambahkan, inflamasi metabolik menjadi salah satu faktor penting yang memperparah resistensi insulin hingga kerusakan sel beta pankreas pada penderita diabetes. Karena itu, pengendalian inflamasi dianggap dapat membantu mengontrol perkembangan penyakit tersebut.
“Inflamasi merupakan target kunci dalam penemuan obat antidiabetes dari tumbuhan,” katanya.
Dalam penelitiannya, Yudi banyak mengkaji berbagai senyawa metabolit sekunder tanaman seperti flavonoid, alkaloid, hingga polifenol yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Salah satu tanaman yang menjadi fokus risetnya adalah Urena lobata.
Disebutkannya, beberapa senyawa dalam tanaman tersebut menunjukkan potensi untuk menghambat produksi nitric oxide dan sitokin proinflamasi yang berkaitan dengan perkembangan diabetes.
“Fitokonstituen memiliki multiaksi sebagai antiinflamasi, antidiabet, dan antioksidan yang bekerja secara sinergis menghambat perkembangan diabet dan komplikasinya,” ujarnya.
Selain itu, Yudi juga menyinggung besarnya potensi biodiversitas Indonesia dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Menurutnya, Indonesia memiliki sekitar 40 ribu spesies tumbuhan atau sekitar 25 persen dari total tumbuhan dunia, tetapi baru sebagian kecil yang dimanfaatkan.
“Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi bangsa Indonesia,” katanya.
Yudi turut mengaitkan penelitian tersebut dengan nilai-nilai keislaman. Ia mengutip Surat Thaha ayat 53 tentang tumbuhan sebagai bagian dari karunia Tuhan yang dapat dimanfaatkan manusia, termasuk sebagai sumber pengobatan.
“Allah memerintahkan untuk memanfaatkan tumbuhan di alam, salah satunya sebagai sumber pengobatan,” ujarnya.
Perjalanan akademik Yudi sendiri cukup panjang. Dia menempuh pendidikan Sarjana Sains dan profesi Apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya. Program Magister Kesehatan diselesaikannya di Program Studi Biomedik Pascasarjana Universitas Brawijaya, sedangkan program doktor ditempuh di FKUB dengan program sandwich di KU Leuven, Belgia.
Ia juga menjalani program posdoktoral di Laboratorium Medical Biochemistry, Department of Biomedical Science, College of Life Sciences, Ritsumeikan University, Jepang.
Sejak 2005, Yudi menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Unisma sekaligus aktif sebagai apoteker penanggung jawab di apotek swasta di Malang. Dalam bidang penelitian, ia dikenal aktif mengembangkan riset farmakologi, biomedik farmasi, dan herbal medicine.
Berbagai hibah penelitian berhasil ia peroleh, baik dari Kemenristekdikti maupun lembaga internasional seperti Asian Japan Research Institute. Saat ini, ia juga sedang menjalankan penelitian di Laboratory of Drug Delivery System Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dan Laboratory of Chemical Biology of Natural Product Nagoya University, Jepang.
Selain menghasilkan 27 artikel jurnal internasional bereputasi Scopus dan lima buku ajar, Yudi juga memiliki satu paten granted serta 10 hak kekayaan intelektual. Ia juga meraih sejumlah penghargaan nasional maupun internasional, termasuk penghargaan dosen dengan karya ilmiah berpengaruh bidang kedokteran dan kesehatan dari LPTNU tahun 2026. (ber/bob)




