Kota Malang, blok-a.com – Semangat “Sing Penting Heppiee” menjadi cara Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang menanamkan budaya anti-bullying kepada calon guru. Sebanyak 89 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) mengikuti outbound interaktif bertema kebinekaan dan pencegahan perundungan di Kampus C UIBU, Jalan Citandui Nomor 46, Kota Malang, Sabtu (27/6/2026).
Alih-alih mengandalkan seminar atau ceramah, UIBU memilih pendekatan berbasis pengalaman melalui permainan kelompok dan Heppiee Interactive Learning. Konsep ini dirancang agar nilai kebinekaan, empati, kerja sama, serta budaya anti-bullying lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh para calon guru.
Rektor UIBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si., mengatakan materi tentang bullying tidak cukup hanya disampaikan secara teoritis. Menurutnya, mahasiswa perlu mengalami langsung bagaimana membangun komunikasi, menghargai sesama, dan bekerja sama melalui berbagai aktivitas.
“Kami meyakini bahwa materi bullying itu tidak cukup hanya untuk diceramahi, tetapi harus dipraktikkan langsung. Mahasiswa mempraktikkannya bersama rekan sejawat melalui berbagai aktivitas,” ujarnya.
Sejak pagi, puluhan mahasiswa PPG PJOK dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti berbagai permainan kelompok yang dipandu instruktur. Setiap permainan dirancang untuk memperkuat kekompakan, komunikasi, kepemimpinan, hingga sikap pantang menyerah sebagai bekal menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan.
Puncak kegiatan diisi dengan Heppiee Interactive Learning, yakni pembelajaran berbasis gamifikasi yang menjadi implementasi slogan “Sing Penting Heppiee”. Melalui gawai masing-masing, peserta mengikuti kuis interaktif bertema kebinekaan secara langsung.
“Pendidikan atau ilmu itu akan lebih gampang diterima kalau dalam keadaan Heppiee. Oleh karena itu, seluruh rangkaian kegiatan dikemas dengan sangat menyenangkan tanpa mengurangi esensi dari muatan materi kebinekaan dan anti-bullying itu sendiri,” kata Nurcholis.
Ia berharap para calon guru memiliki kepekaan dalam mengenali berbagai bentuk bullying, termasuk tindakan yang kerap dilakukan tanpa disadari.
Metode pembelajaran tersebut mendapat apresiasi dari peserta. Mahasiswa PPG UIBU, Yohan Ari Kurnia, menilai pendekatan melalui outbound dan permainan interaktif membuat materi lebih mudah dipahami dibandingkan seminar konvensional.
Sementara itu, Khoridyah Maulidah Annabilah mengaku kegiatan tersebut membuat dirinya lebih siap menghadapi persoalan bullying ketika kelak mengajar di sekolah.
Melalui pendekatan “Sing Penting Heppiee”, UIBU berharap para lulusan PPG tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menjadi guru yang membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menghargai keberagaman. (bob)




