Kota Malang, Blok-a.com – Sebuah lampu hias di kawasan cagar budaya Jalan Ijen Kota Malang ambruk usai diterpa angin kencang. Peristiwa itu terjadi pukul sekitar 16.00 WIB. Lokasi lampu hias yang tumbang itu berada tepat di depan Museum Brawijaya.
“Tadi TACB sudah melaporkan dan berkoordinasi dengan DLH,” ujar Sekretaris TACB Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi pada (24/1/2024).
Nampak, lampu hias tersebut ambruk ke arah jalan di Jalan Ijen Kota Malang. Namun, tiangnya masih disanggah semak-semak di taman. Sehingga, ujung lampu masih miring ke arah jalan.
Sementara itu, pihaknya bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sudah melakukan pemasangan lampu kembali.
Menurut informasi yang diterima oleh wartawan Blok-A.com, lampu yang ambruk tersebut masih dalam observasi pemasangan. Sehingga, lampu hias tersebut masih belum tertanam sempurna.
Di sisi lain, Rakai menyebut bahwa pihaknya tidak pernah lepas mengawasi penanaman lampu pada kawasan berpotensi cagar budaya tersebut. Termasuk penanaman deretan lampu yang ada di sepanjang Jalan Ijen.
“Ini tadi setelah kejadian langsung dilaporkan, dan langsung diperbaiki,” ujar Rakai.
Memasuki pukul 16.55 WIB, lampu sudah berdiri kembali setelah diperbaiki oleh DLH. Tiang lampu hias tersebut sudah kembali terpasang kembali.
Memang, beberapa titik lampu sedang dalam observasi. Pihaknya tengah mengkaji bersama DLH agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali di kawasan cagar budaya.
“Nanti akan kami kaji lagi mengingat ini kawasan berpotensi cagar budaya, jadi termasuk pemasangan lampu ini ke depan akan dikaji lagi supaya kejadian serupa tidak terjadi kembali,” ujar Rakai.
Sementara itu, menurut Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, memang cuaca di Kota Malang masih tergolong ekstrem. Pihaknya mengkonfirmasi ada kurang lebih 10 peristiwa pohon tumbang dan tahan patah di Kota Malang.
“Akibat angin kencang dan cuaca ekstrem, hari ini ada 10 peristiwa yang tercatat, banyak pohon tumbang dan dahan patah,” beber dia.
Pihaknya menghimbau agar warga Kota Malang mengurangi aktivitas di luar rumah selama cuaca ekstrem.
“Jika cuaca ekstrim, upayakan kurangi aktivitas luar rumah. Mitigasi potensi ancaman kerawanan bencana juga harus dilakukan,” pungkas Prayitno. (wdy/bob)




