Kota Malang, blok-a.com – Kasus kebakaran di Kota Malang mengalami lonjakan sepanjang September 2026. UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang mencatat sebanyak 38 kejadian kebakaran hanya dalam periode 1 hingga 20 September.
Angka tersebut sudah melampaui total kejadian kebakaran selama Agustus 2026 yang tercatat sebanyak 28 kasus.
Kepala UPT Damkar Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan mengatakan, peningkatan kasus kebakaran pada September dipengaruhi kondisi cuaca kemarau yang disertai angin kencang.
“Bulan September ini lonjakannya luar biasa, dipengaruhi oleh cuaca kemarau dan angin kencang,” jelas Pandu, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, kebakaran yang terjadi sepanjang September didominasi kejadian di lahan kosong, rumpun bambu di sekitar sungai, hingga tumpukan sampah.
Bahkan dalam satu hari, Selasa (22/9/2026), Damkar Kota Malang mencatat empat kejadian kebakaran di sejumlah wilayah.
Kejadian pertama berlangsung sekitar pukul 02.19 WIB di Jalan Mertojoyo, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Sebuah kios warung makan semi permanen seluas sekitar 20 meter persegi terbakar.
“Dari hasil asesmen, diduga kios warung makan tersebut sengaja dibakar oleh seseorang dan kini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian,” ujarnya.
Kebakaran kedua terjadi sekitar pukul 04.13 WIB di Jalan Trawisari, Kecamatan Sukun. Bangunan seluas sekitar 80 meter persegi yang digunakan sebagai tempat penampungan barang rongsokan terbakar. Damkar mengerahkan sembilan personel dan tiga unit mobil pemadam.
Kebakaran berikutnya terjadi di Jalan Raya Tidar, tepatnya di sekitar Simpang Empat Galunggung. Ruko yang difungsikan sebagai toko kelontong terbakar hingga menyebabkan satu orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka berat.
Berdasarkan asesmen awal Damkar, api diduga berasal dari kompor saat salah satu korban sedang memasak mi. Api kemudian diduga menyambar jeriken berisi bensin eceran.
Sementara kejadian keempat terjadi di Kelurahan Tunggulwulung pada siang hari. Kebakaran menghanguskan sekitar 300 meter persegi rumpun bambu atau barongan di tepi sungai.
“Sedangkan kejadian keempat, terjadi tadi siang di Kelurahan Tunggulwulung. Menghanguskan sekitar 300 meter persegi rumpun bambu (barongan) yang berada di tepi sungai, dan diduga akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan,” ungkapnya.
Pandu mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kemarau. Warga diminta memeriksa sambungan listrik, mencabut peralatan elektronik yang tidak digunakan, serta memastikan kondisi kabel dan instalasi kompor gas.
Selain itu, masyarakat diminta tidak membakar sampah di area terbuka karena kondisi kering dan angin kencang dapat membuat api mudah membesar dan merambat.
“Jangan melakukan bakar-bakar sampah, karena kondisi cuaca kemarau dan anginnya kencang. Api dapat mudah membesar, dan rawan merambat hingga ke area permukiman,” pungkasnya. (bob)




