Sound Horeg Dikeluhkan Warga Lawang Malang, Suara Bising Hingga Tebang Pohon Tanpa Persetujuan

Sound Horeg Dikeluhkan Warga Lawang Malang, Suara Bising Hingga Tebang Pohon Tanpa Persetujuan
Sound Horeg Dikeluhkan Warga Lawang Malang, Suara Bising Hingga Tebang Pohon Tanpa Persetujuan (dok. Warga for blok-a)

 

Kabupaten Malang, Blok-a.com – Suasana damai Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang berubah drastis pada Sabtu (3/8/2024), ketika perakitan sound horeg besar-besaran menimbulkan keresahan di kalangan warga sekitar.

Keresahan itu dirasakan warga berinisial H. Dia melaporkan kejadian yang dimulai sejak pagi hari itu kepada Blok-a.com.

Hal tersebut bermula saat pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, H melihat aktivitas sejumlah orang yang sedang merakit sound system di sebuah truk tepat di depan rumahnya.

Kejadian tersebut, kemudian menyebabkan gangguan lalu lintas di gang kecil yang tidak dapat dilalui karena ukuran truk yang besar.

“Truk tersebut menyenggol kabel wifi kami hingga sempat rusak, meskipun akhirnya segera diperbaiki,” ungkap H kepada Blok-a.com, Rabu (7/8/2024).

Selanjutnya, truk yang dirakit dengan sound system tersebut kemudian dipindahkan ke rumah Ketua Rukun Tetangga (RT), yang berjarak dua rumah dari tempat tinggalnya.

Sementara itu, di depan rumah H terdapat pohon-pohon besar yang sudah puluhan tahun berdiri dan dirawat oleh orang tuanya, termasuk pohon Palem dan Bougenville, yang memberikan teduhan bagi warga sekitar.

“Kami menanam pohon tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan untuk mengurangi polusi karena rumah kami berada dekat dengan jalan yang ramai,” jelasnya.

Masalah itu kemudian memuncak sekitar pukul 11.00, kala itu ketika H mendengar suara bising mesin pemotong pohon yang sangat keras.

Ia terkejut, ketika melihat banyak warga berkumpul bersama massa RT/RW dan kepala dusun, bersiap-siap menebang pohon-pohon kesayangan yang ada di depan rumahnya.

“Sebelum kepala dusun tiba, warga sudah membunyikan mesin pemotong sebagai bentuk gertakan, namun tidak ada yang berani menghadapi ayah saya secara langsung,” katanya.

Setelah kepala dusun tiba, ayah H diminta keluar dan diberitahu bahwa mereka akan menebang pohon-pohon tersebut. Dikatakannya, ayahnya mencoba berdiskusi dengan baik dan menyarankan agar pohon-pohon tidak ditebang, mengingat kepentingan yang hanya bersifat sementara.

Namun, warga bersikeras dan menyatakan bahwa pohon-pohon tersebut berada di fasilitas umum, sehingga ayah H tidak berhak menolak.

“Pohon-pohon kami ditebang habis tanpa sisa, bahkan tanaman-tanaman pendek juga diratakan,” cerita Hellen dengan nada sedih. “Setelah menebang, mereka pergi sambil tertawa, seolah-olah tidak merasa bersalah,” bebernya.

Sore harinya, sound system dinyalakan dengan volume yang sangat keras hingga pukul 22.00 WIB. Kebisingan yang dihasilkan menyebabkan kaca rumah bergetar, lantai bergetar, hingga anak-anak kecil di rumah menangis ketakutan.

“Meski tahu ini adalah kampung, bukan tempat karnaval, mereka tetap tidak peduli dan malah mengundang banyak orang untuk menonton,” bebernya.

H merasa sangat terganggu dengan adanya karnaval sound horeg ini. Ia menilai pihak RT dan RW serta kepala dusun bertindak sewenang-wenang dan tidak pernah berdiskusi dengan mereka sebelumnya.

“Saya berharap, melalui laporan ini, suara kami dapat didengar dan keadilan bisa ditegakkan,” harapnya.

Selanjutnya, H juga berencana menindaklanjuti keresahan akuhat sound horeg di Kecamatan Lawang Kabupaten Malang ini dengan serius kepada pihak berwenang karena merasa lingkungan mereka dirusak dan kenyamanan mereka terganggu. (ptu/bob)

Exit mobile version