Kabupaten Malang, blok-a.com – Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, masuk dalam 15 besar Desa Wonderful. Capaian ini menjadi peluang untuk memperluas promosi wisata sekaligus mendorong perekonomian masyarakat melalui pengelolaan potensi budaya dan alam desa.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menyebut Desa Poncokusumo memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi contoh pengembangan desa wisata. Desa ini merupakan salah satu pelopor desa wisata di Kabupaten Malang.
Salah satu kekuatan yang dimiliki Poncokusumo adalah kekayaan budaya, termasuk Kolok Goblok yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dan memiliki surat keputusan (SK).
Selain budaya, Poncokusumo memiliki karakteristik wilayah yang unik. Pembagian lingkungan di desa tersebut menggunakan istilah blok yang dinamai dengan nama hari Senin hingga Minggu. Penamaan itu bahkan menjadi penanda penting untuk memudahkan aktivitas warga, termasuk pengiriman barang oleh kurir.
“Yang paling kuat adalah kelembagaannya. Kelembagaan Pokdarwis itu sudah yang kedua kali ini, pemilihannya pun dipilih secara demokratis. Jadi bukan ditunjuk, tetapi benar-benar melalui pemilihan,” ujar Firmando.
Ia menambahkan, proses pemilihan pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang terbuka menunjukkan adanya tata kelola kelembagaan yang berjalan baik. Pokdarwis juga membina sejumlah bidang usaha, termasuk homestay, sehingga aktivitas pariwisata dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dari sisi daya tarik, Desa Poncokusumo memiliki paket wisata berbasis alam. Salah satu yang ditawarkan adalah forest bathing, yakni kegiatan menikmati alam dengan pendekatan kesehatan atau health tourism.
Melalui kegiatan tersebut, wisatawan diajak mengenal alam lebih dekat, menikmati udara segar, hingga melakukan meditasi di kawasan hutan dan pegunungan.
Firmando menilai pengembangan desa wisata tidak semata-mata mengejar jumlah kunjungan. Pengelolaan pariwisata juga perlu menjaga ekosistem desa agar lingkungan tetap lestari dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
“Yang jelas untuk peningkatan ekonomi. Namun, desa wisata sebagai sebuah ekosistem juga harus bisa menjaga alam dan lingkungan agar berkembang dengan baik. Secara tidak langsung, hal itu akhirnya memberikan dampak ekonomi,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, apabila Desa Poncokusumo berhasil meraih peringkat pertama, jangkauan promosinya berpeluang semakin luas karena desa tersebut menjadi bagian dari pembinaan Kementerian Pariwisata.
Firmando juga menerangkan pengembangan desa wisata perlu diarahkan pada penguatan kualitas dan sertifikasi. Ia menuturkan tahapan lanjutan tersebut sebagai BTV, yang digambarkan sebagai ajang desa wisata berskala internasional.
Lebih jauh, Disparbud Kabupaten Malang berharap capaian Poncokusumo dapat menjadi inspirasi bagi desa lain untuk mengembangkan potensi masing-masing, bukan sekadar meniru konsep yang sudah ada.
Firmando menegaskan, setiap desa memiliki identitas berbeda yang dapat menjadi DNA pariwisata. Identitas tersebut bisa bersumber dari kebudayaan, kekayaan alam, maupun daya tarik buatan yang dikembangkan sesuai karakter dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Harapan kami, setiap desa bisa menemukan jati dirinya untuk kemudian dikenalkan di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Hal itu bisa berdampak pada pengetahuan sekaligus peningkatan ekonomi,” pungkasnya. (yog)








