Mitos Bawa Pacar ke Wisata Wendit Akan Putus, Benarkah? Ini Penjelasannya

Sejarawan Dwi Cahyono saat menceritakan asal usul nama Wisata Mendit (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Sejarawan Dwi Cahyono saat menceritakan asal usul nama Wisata Mendit (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Wisata Wendit yang terletak di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, tak hanya dikenal dengan kolam renang dan beberapa kawanan kera. Di balik pesona alamnya, beredar mitos yang cukup populer di masyarakat, pasangan yang datang berpacaran ke Wisata Wendit dipercaya akan putus hubungan.

Sejarawan Malang, Dwi Cahyono, mengaku belum menemukan sumber historis yang secara langsung menyebut mitos tersebut. Namun, ia menduga kepercayaan itu bisa jadi berkaitan dengan struktur telaga Wendit yang terpisah menjadi dua bagian.

“Mungkin begini, Wendit itu kan sebenarnya satu telaga besar. Tapi kemudian terpisah jadi dua, yang satu Lanang (laki-laki), yang satu Wedok (perempuan),” ujar Dwi, Jumat (13/2/2026)

Menurutnya, konsep “terpisah” atau “pegat” dalam budaya Jawa sering dimaknai sebagai simbol perpisahan. Ia mencontohkan istilah Gunung Pegat yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Jawa.

“Gunung Pegat itu dulu satu gunung, tapi dibelah jadi dua. Karena itu disebut Pegat. Dalam tradisi Jawa, kalau ada orang mau nikahan lewat Gunung Pegat biasanya memberi sesaji supaya rumah tangganya ora pegatan (tidak cerai),” jelasnya.

Dari situ, Dwi menduga mitos putus cinta di Wendit mungkin muncul karena filosofi telaga yang “pegat” atau terpisah tersebut. Terlebih, lanjut Dwi di wisata Wendit terbagi menjadi dua yakni Wendit Lanang dan Wendit Wedok.

“Mungkin karena telaganya pegat. Ada Telaga Wendit Lanang di utara, ada Telaga Wedok di selatan. Lanang-e neng lor, wedok-e neng kidul,” katanya.

Menariknya, untuk merespons simbol keterpisahan tersebut, warga setempat justru memiliki tradisi tahunan yang menyatukan kembali dua telaga itu secara simbolis. Dwi mengaku menjadi penggagas ritual yang dinamakan “Tirta Wiwaha”, yang digelar setiap 13 April bertepatan dengan hari jadi Desa Balingawan (berdasarkan Prasasti Balingawan tahun 891).

“Ritual itu saya gambarkan sebagai ngrabekne banyu, menikahkan air. Air dari Wendit Wedok diambil, dibawa ke Wendit Lanang, lalu dicampur. Itu yang saya sebut Tirta Wiwaha,” ungkapnya.

Dalam prosesi tersebut, warga menggelar kirab tumpeng dari Wendit Wedok menuju Wendit Lanang, lalu dilanjutkan dengan doa bersama.

“Wiwaha itu artinya perkawinan, Tirta itu air suci. Jadi walaupun telaganya terpisah, setiap tahun disatukan kembali,” jelas Dwi.

Menurutnya, ritual itu sekaligus menjadi simbol harmoni dan persatuan, bukan perpisahan seperti yang dipercaya dalam mitos. Dwi menilai, mitos pasangan putus setelah berkunjung ke Wendit lebih bersifat simbolik dan berkembang secara turun-temurun di masyarakat.

“Apakah benar karena itu? Ya mungkin saja orang mengaitkan dengan simbol telaga yang terpisah tadi,” katanya.

Ia menjelaskan, secara sejarah tidak ada catatan yang menyebut Wendit sebagai lokasi pembawa sial bagi pasangan. Sebaliknya, melalui ritual Tirta Wiwaha, masyarakat justru ingin menunjukkan Wendit adalah simbol penyatuan.

“Kalau ada yang bilang datang ke Wendit bikin putus, ya mungkin itu tafsir dari ‘pegat’-nya telaga. Tapi setiap tahun airnya kita nikahkan kembali,” pungkasnya. (yog)

Exit mobile version