Konsisten Riset Herbal, Guru Besar Universitas Islam Malang Raih Penghargaan Nasional

Prof. Dr. Nour Athiroh Abdoes Sjakoer, S.Si., M.Kes. meraih peringkat pertama dalam ajang LPTNU Awards 2026 pada bidang karya ilmiah ilmu alam dan kehidupan. (blok-a.com / M Berril Labiq)
Prof. Dr. Nour Athiroh Abdoes Sjakoer, S.Si., M.Kes. meraih peringkat pertama dalam ajang LPTNU Awards 2026 pada bidang karya ilmiah ilmu alam dan kehidupan. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Guru besar Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. Dr. Nour Athiroh Abdoes Sjakoer, S.Si., M.Kes., menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui ajang LPTNU Awards 2026. Ia meraih peringkat pertama pada kategori karya ilmiah bidang ilmu alam dan kehidupan.

Perempuan yang akrab disapa Nour itu dikenal konsisten meneliti pemanfaatan benalu teh dan benalu mangga sebagai bahan produk herbal. Riset tersebut telah ia tekuni sejak awal kariernya sebagai dosen pada 1995.

Tidak hanya berfokus pada publikasi ilmiah, Nour juga mendorong agar hasil penelitiannya memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan produk herbal berbahan dasar benalu yang dilakukan bersama mitra industri.

“Kalau Prof Agus meneliti jamur, saya banyak meneliti benalu teh dan benalu mangga,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Dalam setiap penelitian, ia turut melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari tim riset. Menurutnya, keterlibatan tersebut penting untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam proses penelitian.

“Saya selalu mengajak mahasiswa dalam tim penelitian. Berapa pun dana riset yang kami dapatkan, mahasiswa tetap saya libatkan,” katanya.

Lebih jauh, hasil riset tersebut juga menjadi bagian dari hilirisasi penelitian di lingkungan kampus. Selain itu, berbagai aktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat turut ia bagikan melalui media sosial guna memperluas dampak.

Menariknya, penghargaan yang diterimanya justru datang sebagai kejutan. Nour mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa dirinya masuk dalam daftar penerima penghargaan.

“Saya juga tidak tahu sebelumnya. Pak Rektor mengirim pesan dan ada nama saya, tapi saya belum yakin. Setelah dikirim bukti resminya, baru saya percaya,” ujarnya.

Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat luas.