Kabupaten Malang, blok-a.com – Perjalanan brand fesyen muslim Casila menunjukkan bahwa membangun bisnis tak selalu harus dimulai dari produksi sendiri. Brand ini tumbuh bertahap, dari reseller hingga kini dikenal sebagai produsen gamis syar’i, khususnya untuk anak.
Casila dirintis sejak 2013 oleh Indah Casila Sakti di Jakarta. Awalnya, bisnis dijalankan dengan sistem reseller, menjual produk dari brand lain tanpa produksi sendiri.
“Awalnya istri yang merintis sendiri sebelum menikah,” ujar Arif Susanto.
Setelah menikah pada 2014, keduanya mulai serius mengembangkan bisnis. Pada 2015, mereka fokus ke penjualan online melalui media sosial, meski belum masuk marketplace.
“2015 mulai fokus online, tapi masih tetap pakai sistem mitra,” jelas Arif.
Langkah besar diambil pada 2016 dengan mulai membangun brand sendiri. Namun, produksi mandiri baru dilakukan pada 2022 setelah melalui proses riset.
Awalnya, Casila memproduksi busana muslim dewasa. Namun arah bisnis berubah setelah melihat peluang di segmen anak yang dinilai lebih potensial.
“Kalau dewasa biasanya beli satu atau dua. Tapi untuk anak bisa lebih dari satu, bahkan beda warna,” ujar Indah.
Sejak fokus ke produk anak, produksi meningkat pesat. Dari skala kecil, kini mampu mencapai puluhan ribu per minggu dan ratusan ribu per tahun.
Sebelum pandemi, penjualan Casila banyak ditopang jaringan mitra dan reseller di berbagai daerah. Bahkan distribusinya sudah menjangkau luar negeri seperti Singapura, Malaysia, hingga Jepang.
Pandemi Covid-19 menjadi titik perubahan. Banyak mitra berhenti, sehingga Casila mulai membangun kanal penjualan sendiri.
Pada 2023, mereka meluncurkan Casila Official Store di Shopee. Proses adaptasi butuh waktu, termasuk riset pasar hampir satu tahun.
Hasilnya mulai terlihat pada 2024, terutama saat momentum Lebaran.
“Di 2024 Lebaran kita mulai menemukan polanya,” kata Arif.
Memasuki 2025 hingga awal 2026, marketplace menjadi kontributor utama penjualan. Dalam tiga bulan pertama 2026 saja, penjualan di Shopee sudah menembus lebih dari 2.000 produk.
Strategi digital jadi kunci, terutama melalui fitur iklan.
“Hampir 90 persen penjualan dari Ads,” ujarnya.
Selain itu, Casila juga memanfaatkan afiliator dan influencer untuk memperluas jangkauan pasar.
Dalam dua tahun terakhir, Casila memperkuat positioning sebagai brand gamis anak untuk kebutuhan umrah. Hal ini juga mempererat hubungan dengan pelanggan.
“Banyak yang tag saat umrah bareng anaknya pakai Casila,” ujar Indah.
Dari sisi produk, Casila memilih menjaga kualitas dan desain yang konsisten.
“Modelnya simpel tapi timeless,” tambahnya.
Untuk memperluas pasar, Casila juga mengembangkan beberapa sister brand dengan segmentasi berbeda, seperti Babykulucu, Kusukasi, dan Al-Hafizku.
Dari sisi operasional, bisnis ini juga memberdayakan tenaga kerja lokal. Saat ini, terdapat delapan karyawan tetap serta dukungan dari penjahit rumahan.
Meski terus berkembang, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara tren pasar dan kapasitas produksi.
“Kalau ikut tren tapi produksi tidak siap, justru berisiko,” pungkas Indah. (yog/bob)




