Kota Malang, blok-a.com – Comboran di Kota Malang saat ini dikenal dengan aktivitas perdagangan mulai dari barang bekas hingga barang antik. Namun, nama comboran ternyata memiliki makna historis yang melekat di kawasan itu.
Pemerhati Sejarah Kota Malang, Agung Buana, mengatakan penamaan Comboran memiliki sejarah unik yang berkaitan dengan aktivitas transportasi dan perdagangan pada awal abad ke-20. Nama tersebut berasal dari kebiasaan para kusir delman memberi makan dan minum kuda di sekitar kawasan Stasiun Jagalan.
Agung menambahkan penyebutan kawasan kata Comboran berasal dari istilah Jawa “Nyombor”, yaitu aktivitas memberi makan dan minum kuda menggunakan wadah tertentu.
“Comboran ini berasal dari kata combor atau nyombor. Nyombor itu artinya memberi minuman dan makanan pada kuda,” ujar Agung, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, aktivitas tersebut muncul ketika Stasiun Trem Jagalan mulai beroperasi sekitar akhir abad ke-19. Pada masa itu, transportasi utama untuk mengangkut penumpang maupun barang masih menggunakan kendaraan yang ditarik kuda, seperti dokar atau delman.
Agung mengungkapkan, para kusir biasanya menunggu penumpang di sekitar stasiun setelah mengantarkan hasil bumi dari wilayah sekitar Malang. Para kusir tersebut berasal dari luar kawasan comboran sehingga memilih tempat itu sebagai istirahat sementara sembari menunggu angkutan di sekitar kawasan stasiun.
“Kuda-kuda atau dokar itu berhentinya di dekat Pasar Jagalan dan stasiun. Para kusir berasal dari Kedungkandang, Bululawang, Tumpang, bahkan Kepanjen yang membawa hasil bumi ke pasar-pasar di Malang,” jelasnya.
Ketika menunggu penumpang itulah, lanjut Agung para kusir memberi makan dan minuman untuk kuda yang menjadi transportasi umum waktu itu.
“Ketika menunggu penumpang, kusirnya memberi makan dan minum kuda. Biasanya menggunakan gentong, tempayan, atau wadah kayu yang diisi air, rumput, dan dedak,” tuturnya.
Aktivitas memberi makan kuda tersebut kemudian dikenal dengan istilah ‘Nyombor’, karena kuda meminum dan memakan pakan langsung dari wadah yang disediakan.
“Karena banyak orang yang nyombor di situ, lama-lama orang menyebut daerah itu Nyombor. Kemudian berubah menjadi Combor, dan akhirnya menjadi nama tempat, yaitu Comboran,” terang Agung.
Ia menambahkan, aktivitas nyombor tersebut berlangsung cukup lama hingga sekitar tahun 1950-an, bersamaan dengan berakhirnya operasional trem di Malang.
“Nyombor ini bertahan sampai sekitar tahun 1950, karena trem di Malang juga berakhir pada masa itu,” tandasnya.
Kawasan Comboran di Kota Malang tidak hanya dikenal karena sejarah aktivitas kusir memberi makan kuda pada masa trem Jagalan. Kawasan ini juga memiliki sejarah sebagai pasar barang bekas atau pasar loak yang bermula sejak masa pendudukan Jepang pada awal 1940-an.
Agung menyebut aktivitas jual beli barang bekas di kawasan Comboran mulai muncul sekitar tahun 1940-an, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Malang pada 8 Maret 1942.
Menurutnya, saat Jepang datang, banyak warga Belanda yang tinggal di kawasan elite seperti Ijen, Kawi, hingga kawasan Gunung-Gunung terpaksa meninggalkan rumah mereka.
“Orang-orang Belanda yang rumahnya di Ijen, di Kawi, dan di Gunung-Gunung itu sebelum Jepang masuk banyak yang mengungsi. Kalau tidak sempat mengungsi, mereka ditangkap Jepang dan dimasukkan ke tempat penahanan yang disebut interniran,” ujar Agung.
Interniran merupakan tempat penahanan bagi warga sipil Belanda, terutama perempuan dan anak-anak, selama masa pendudukan Jepang. Sebelum pergi atau saat ditangkap, sebagian warga Belanda menitipkan rumah mereka kepada para pembantu atau penjaga rumah.
Namun kondisi berubah ketika para penjaga tersebut tidak lagi mendapatkan gaji setelah majikannya ditahan atau meninggalkan Malang.
“Karena tidak digaji lagi dan tidak punya penghasilan, akhirnya para penjaga rumah itu menjual barang-barang yang ada di rumah Belanda, seperti piring, gelas, hingga perabot rumah tangga,” jelasnya.
Barang-barang tersebut kemudian dijual di kawasan Comboran yang saat itu mulai berkembang sebagai lokasi perdagangan tidak resmi atau pasar gelap.
“Awalnya yang dijual hanya piring, gelas, dan peralatan rumah tangga. Lama-lama berkembang menjadi pakaian, meja, kursi, hingga berbagai barang lain,” katanya.
Aktivitas tersebut lambat laun membentuk pasar barang bekas yang dikenal hingga sekarang sebagai pasar loak atau pasar klitikan Comboran.
“Karena orang-orang menjual barang bekas di situ, akhirnya Comboran dikenal sebagai pasar klitikan atau pasar loak. Itu asal mula munculnya perdagangan barang bekas di kawasan tersebut,” pungkas Agung. (yog/bob)



