Kabupaten Malang, blok-a.com – Seni ludruk biasanya identik dengan para seniman panggung. Namun berbeda dengan yang digagas warga Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung. Di tangan Depi Ari Cahyono dan Kusnadi, ludruk justru dimainkan oleh petani dan peternak dengan cerita yang diangkat langsung dari kehidupan nyata di dusun mereka.
Konsep ini dikenal dengan sebutan ludruk organik. Seluruh elemen pertunjukan dibuat sederhana, alami, dan tanpa sentuhan profesional. Meski begitu, penampilannya mampu mengundang gelak tawa sekaligus refleksi bagi penonton.
Ludruk organik itu menjadi salah satu suguhan dalam Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest) yang digelar Minggu (12/4/2026) lalu. Sejak awal pentas, penonton sudah dibuat terhibur dengan aksi para pemeran laki-laki yang berdandan ala perempuan menggunakan kebaya, lengkap dengan tarian dan sinden khas Jawa.
Padahal, para pemain tersebut bukanlah aktor. Mereka adalah warga biasa yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan peternak.
Pada pementasan terbaru, mereka mengangkat lakon bertajuk Hikayat Keblek. Cerita ini berlatar era 1980-an, menggambarkan kondisi ekonomi warga yang serba sulit serta kesenjangan sosial yang mencolok.
Di tengah kondisi itu, kepercayaan terhadap hal gaib masih kuat. Salah satu kisah yang diangkat adalah cerita warga yang kehilangan hasil panen secara misterius.
“Ada satu warga miskin yang hasil panennya selalu berkurang setiap minggu. Memang ada benar-benar mencuri, tetapi orang tersebut percaya jika ada tuyul atau makhluk jadi-jadian yang mengambilnya,” ujar Depi, Jumat (1/5/2026).
Kecurigaan mengarah pada sosok kaya yang diduga memiliki pesugihan dan menjelma sebagai kelelawar atau keblek. Cerita tersebut pernah ramai diperbincangkan warga dan kini diangkat kembali sebagai refleksi sosial.
“Cerita itu dulu sangat ramai, makanya kami angkat dalam ludruk organik ini. Inti amanat dari cerita itu adalah jagalah hartamu dan menabunglah supaya masa depan lebih cerah,” kata Depi.
Ludruk organik sendiri mulai digagas sejak 2017. Pada pementasan awal, mereka mengangkat legenda asal-usul Dusun Busu dengan menggali cerita dari para sesepuh, termasuk warga kelahiran 1928 dan 1930.
Pementasan berikutnya berjudul Leboes Aloem yang mengisahkan kehidupan keluarga miskin bernama Kromo. Cerita tersebut menyoroti kerasnya hidup buruh tani yang harus menghadapi atasan semena-mena, hingga kesulitan biaya pengobatan anak.
“Kok urip mandor ngunu iku, kok ora mati ae. Nyambut gawe nggolek liyane (Kok hidup mandor seperti itu, kok tidak mati saja. Bekerja nyari yang lain),” celetuk salah satu tokoh dalam adegan.
Dialog spontan dan apa adanya menjadi kekuatan utama ludruk organik. Naskah hanya dijadikan kerangka, sementara percakapan berkembang secara natural di atas panggung.
Tak hanya hiburan, ludruk ini juga menjadi media kritik sosial. Dalam beberapa pementasan, mereka sengaja mengundang perangkat desa agar pesan yang disampaikan bisa langsung diterima, termasuk terkait kemiskinan hingga praktik korupsi.
“Kami tampilkan itu di depan pejabat-pejabat desa untuk menunjukkan bahwa korupsi itu memang ada,” jelas Depi.
Meski memiliki pesan kuat, keterbatasan masih menjadi kendala. Properti panggung dibuat seadanya, perpindahan latar dilakukan manual, dan musik masih mengandalkan audio sederhana tanpa gamelan.
Karena itu, hingga kini ludruk organik masih lebih sering dipentaskan di lingkungan dusun. Namun demikian, semangat warga untuk berkarya tetap terjaga.
Dengan kesederhanaan tersebut, ludruk organik Busu justru menghadirkan pertunjukan yang jujur, dekat dengan realitas, dan penuh makna bagi masyarakatnya. (yog/bob)




