Kota Malang, blok-a.com – Nama Rajabali yang melekat di perempatan Kayutangan, tepatnya di depan Bank BCA, ternyata bukan berasal dari nama tokoh raja atau istilah lokal. Sebaliknya, nama tersebut justru berakar dari sebuah toko milik warga keturunan India yang pernah berjaya di kawasan itu sejak era 1960-an.
Sejarawan Malang, Agung Buana, mengatakan penyebutan Rajabali diperkirakan muncul dari keberadaan Toko Rajabali yang berdiri di lokasi tersebut.
“Sejak tahun 1960-an di situ muncul Toko Rajabali. Pemiliknya bernama Rajab Ali, orang India. Karena di papan namanya ditulis menyambung jadi ‘Rajabali’, akhirnya masyarakat menyebut kawasan itu sebagai perempatan Rajabali,” kata Agung, Jumat (24/4/2026).
Toko tersebut dikenal sebagai toko serba ada yang menjual berbagai kebutuhan masyarakat. Letaknya yang strategis di simpang jalan membuat nama Rajabali cepat dikenal dan kemudian melekat sebagai penanda lokasi hingga sekarang.
Secara fisik, Toko Rajabali dulunya memiliki bangunan yang cukup panjang. Area tokonya membentang dari lokasi yang kini menjadi parkiran motor Lafayette hingga ke arah barat, mendekati deretan toko kamera. Namun seiring waktu, bangunan tersebut mengalami penyusutan karena dijual secara bertahap.


“Dulu tokonya memanjang, tapi kemudian dijual sedikit demi sedikit, jadi terpotong-potong,” ungkap Agung.
Memasuki era 1990-an hingga awal 2000-an, sisa bangunan tersebut difungsikan sebagai money changer dengan nama PT Rajabally. Agung bahkan mengaku pernah menelusuri langsung asal-usul nama tersebut hingga ke India.
“Saya pernah ke Mumbai tahun 2019, sempat bertemu keturunan Rajab Ali. Saya tanya, yang benar Rajabali atau Rajab Ali? Jawabannya Rajab Ali,” katanya.
Tak sedikit yang mengira nama Rajabali berkaitan dengan bangunan bergaya kolonial di kawasan tersebut. Namun Agung menegaskan, hal itu tidak benar.
“Yang bangunan Belanda itu adalah Gedung Kembar di depan Bank BCA, sekarang jadi Lafayette. Itu tidak ada kaitannya dengan nama Rajabali,” tegasnya.
Agung menjelaskan, gedung Kembar tersebut merupakan karya arsitek Belanda Karrel Bos dan dibangun sebagai landmark atau penanda pintu masuk kawasan Malang bagian barat.
Pembangunannya merupakan bagian dari perencanaan kota kolonial yang dikenal dengan Bouwplan V dan Bouwplan VII. Pada Bouwplan V, kawasan tersebut mulai dikembangkan dengan fasilitas seperti kolam renang (Zwembad), Stadion Gajayana, hingga arena pacuan kuda.
“Sementara pada Bouwplan VII, pembangunan difokuskan pada kawasan permukiman,” pungkasnya.
Sebagai informasi, saat ini salah satu gedung kembar difungsikan sebagai kafe dan restoran Lafayette di sisi utara, sementara bangunan di sisi selatan kondisinya kurang terawat.
Selain itu, bangunan Bank BCA yang berada di simpang tersebut dulunya merupakan Hotel Mabes. Di seberangnya, pernah berdiri Toko Lido, sebuah toko mainan yang cukup dikenal pada masanya dan kini sudah tutup permanen.
Perubahan fungsi bangunan dan perkembangan kota memang membuat wajah kawasan Kayutangan terus berubah. Namun nama Rajabali tetap bertahan sebagai identitas kawasan, menjadi pengingat akan jejak sejarah yang berasal dari sebuah toko milik perantau India. (ber/bob)



