Jejak Embong Arab, Pecinan, dan Kauman, Warisan Segregasi Kolonial di Kota Malang

Toko Bayakub, salah satu unit usaha legendaris di kawasan Embong Arab, Kota Malang. (blok-a.com/ Berril Labiq)
Toko Bayakub, salah satu unit usaha legendaris di kawasan Embong Arab, Kota Malang. (blok-a.com/ Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.comKawasan Embong Arab, Pecinan, dan Kauman di Kota Malang menyimpan jejak sejarah panjang yang tak lepas dari kebijakan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Pemisahan wilayah berdasarkan etnis menjadi salah satu latar belakang terbentuknya kawasan-kawasan tersebut.

Sejarawan Malang, Agung Buana, menjelaskan pada era 1900-an, pemerintah kolonial Belanda menerapkan politik segregasi yang membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Pembagian tersebut berdasarkan pengelompokan agar pemerintah kolonial Belanda dapat membedakan dan memisahkan non-pribumi dengan pribumi.

“Pada tahun 1900-an Belanda menerapkan politik segregasi untuk memisahkan warga berdasarkan kelompok etnis, agar penduduk non-pribumi tidak menyatu dan dikelompokkan dalam wilayah tertentu,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Agung menerangkan, pembagian itu meliputi kawasan Pecinan untuk etnis Tionghoa, Embong Arab untuk etnis Arab, serta kawasan India-Pakistan untuk komunitas India dan Pakistan.

Kawasan Embong Arab sendiri membentang dari sekitar Rumah Makan Kairo hingga ke arah utara menuju kawasan penjual kurma. Pada masa itu, mayoritas warga keturunan Arab berprofesi sebagai pedagang, khususnya minyak wangi dan kurma seperti juga yang terjadi saat ini.

“Sebagian besar orang Arab pada zaman itu berjualan minyak wangi, kurma, dan lain-lain,” jelas Agung.

Ia juga menyebut, kawasan tersebut sempat mendapat julukan Paris Van Java dari Belanda, karena aktivitas perdagangan parfum yang cukup menonjol.

“Julukan itu muncul karena Jalan Syarif Al-Qodri menjadi pusat perdagangan minyak wangi, mirip dengan Paris yang dikenal sebagai pusat parfum dunia,” tambahnya.

Sementara itu, kawasan Kauman dikenal sebagai basis komunitas India-Pakistan di Kota Malang. Lokasinya berada di belakang Masjid Jami’ Malang, yang hingga kini masih menjadi pusat aktivitas masyarakat.

“Kelompok etnis India-Pakistan memiliki basis di wilayah Kauman, tepatnya di belakang Masjid Jami’ Malang,” kata Agung.

Mayoritas warga di kawasan tersebut berprofesi sebagai pedagang, mulai dari makanan hingga perabotan rumah tangga. Salah satu tokoh yang cukup dikenal adalah Rajab Ali, pemilik Toko Rajabali yang legendaris di Malang. Nama Kauman sendiri memiliki makna religius yang erat kaitannya dengan keberadaan Masjid Jami’.

“Kauman berasal dari istilah ‘Kaum Iman’, karena lokasinya dekat masjid, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai kawasan orang-orang beriman,” pungkasnya. (ber/bob)

Exit mobile version