Fotografer Spanyol Tempuh 2.000 Kilometer, Dokumentasikan 12 Komunitas Wayang Topeng Malang

Fotografer Spanyol Tempuh 2.000 Kilometer, Dokumentasikan 12 Komunitas Wayang Topeng Malang (foto: Nedi Putra AW for blok-a.com)
Fotografer Spanyol Tempuh 2.000 Kilometer, Dokumentasikan 12 Komunitas Wayang Topeng Malang (foto: Nedi Putra AW for blok-a.com)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Kekayaan tradisi Wayang Topeng Malang kembali mendapat perhatian melalui proyek fotografi dan antropologi visual bertajuk MALANGAN. Proyek tersebut mendokumentasikan keberlangsungan komunitas-komunitas yang hingga kini masih menjaga tradisi Wayang Topeng dan Cerita Panji.

MALANGAN dirangkum dalam sebuah buku karya Diego Zapatero, fotografer sekaligus antropolog visual asal Zaragoza, Spanyol. Selama tiga tahun, Diego melakukan penelitian lapangan dengan menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer di wilayah Malang.

Dari penelitian tersebut, Diego mengidentifikasi dan mendokumentasikan 12 komunitas aktif yang masih mempertahankan tradisi pertunjukan Wayang Topeng.

Dokumentasi yang dilakukan tidak sebatas mengabadikan pertunjukan. Diego juga merekam ritual, tata busana, proses pembuatan topeng, hingga nilai-nilai mistisme yang melekat dalam pertunjukan Cerita Panji.

Ketertarikannya terhadap topeng membuat Diego memilih kesenian tersebut sebagai bagian dari proyek fotografi jangka panjang. Ia menilai sejumlah tradisi topeng menghadapi ancaman kepunahan sehingga penting untuk didokumentasikan.

“Saya punya project pentalogi tentang topeng. Satu buku pertama tentang Wayang Topeng Jogja, sementara di Malang ini adalah buku nomor dua tentang topeng,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan maestro, penari, seniman lokal, dan komunitas pelestari Wayang Topeng. Sebanyak 12 foto pilihan hasil penelitian Diego turut dipamerkan di lokasi tersebut.

Diego yang telah menetap di Asia Tenggara selama lebih dari tujuh tahun mengaku ketertarikannya terhadap topeng berawal dari sang ayah yang kerap membawa topeng setelah melakukan perjalanan ke kawasan Amazon.

Sementara buku MALANGAN diterbitkan pada Desember 2025 dalam edisi berbahasa Indonesia. Buku tersebut kemudian secara khusus diserahkan kembali kepada komunitas-komunitas Topeng Malang yang menjadi bagian dari proyek dokumentasinya.

“Saat memotret, secara fotografis kita sudah mengambil sesuatu dari orang itu. Maka jangan sampai kita closing the circle, jadi harus kita kembalikan lagi, salah satunya dengan dokumentasi yang ada di buku saya ini,” jelasnya.

Menurut Diego, mengembalikan dokumentasi kepada komunitas merupakan bagian penting dari proses fotografi dan penelitian. Buku tersebut tidak hanya berfungsi sebagai arsip, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi kepada masyarakat yang telah membuka ruang bagi dirinya untuk mempelajari tradisi Wayang Topeng.

Pameran tersebut juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Diego. Untuk pertama kalinya, hasil karyanya dipamerkan di sebuah kampung, bukan di galeri atau ruang pamer di kawasan perkotaan.

Dalam proses pemotretan, Diego menggunakan kamera DSLR Nikon D800 dengan lensa 50mm. Foto diambil di lokasi masing-masing maestro dengan memanfaatkan available light sehingga menghasilkan visual yang natural dan menonjolkan karakter para pelaku serta lingkungan tempat tradisi topeng berkembang.

“Saya abadikan dengan gaya timeless, agar tetap dapat dinikmati hingga tahun-tahun ke depan,” tukasnya.

Diego juga mengapresiasi keterbukaan komunitas selama proses penelitian. Menurutnya, para pelaku seni memahami tujuan serta visi proyek yang dijalankannya.

“Dari awal mereka mengerti tujuan saya, baik visi dan misi dalam 12 hari eksplorasi. Jadinya indah sekali saya bisa masuk ke sini lagi untuk mengembalikan apa yang sudah saya ambil,” tegasnya.

Banyaknya komunitas yang masih aktif menjadi salah satu alasan Diego tertarik mendokumentasikan Topeng Malang. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tradisi Wayang Topeng masih memiliki ruang untuk berkembang dan diwariskan.

“Next project saya adalah tentang Topeng Cirebon, Madura dan Bali,” tandasnya.

Proyek MALANGAN mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta sebagai bagian dari upaya mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat pertukaran kebudayaan antara Spanyol dan Indonesia.

Proyek tersebut juga didukung komite penasihat internasional, di antaranya sejarawan seni dan pakar era Majapahit Dr. Lydia Kieven, kurator asal New York Rosa J.H. Berland, antropolog Patrick Vanhoebrouck, serta jurnalis dan peraih Penghargaan Nasional Jurnalisme Kebudayaan Spanyol Antón Castro yang turut memberikan kata pengantar untuk buku foto tersebut.

Sementara itu, Pengasuh Padepokan Asmorobangun, Tri Handoyo, menyambut baik pameran dan penerbitan buku MALANGAN. Menurutnya, dokumentasi tersebut dapat memperkuat upaya pelestarian seni Topeng Malangan dan Cerita Panji.

Cucu almarhum maestro Topeng Malang Mbah Karimun itu menilai kehadiran buku dan dokumentasi fotografi dapat memperluas pengenalan Topeng Malangan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga ke tingkat internasional.

“Terus terang literasi terkait Topeng Malangan sendiri sangat kurang. Menulis atau meneliti Topeng Malang juga harus bisa menyelaraskan, misalnya antara topeng Malang Selatan dengan Malang Timur agar tidak terjadi kontra dalam penulisannya,” ujarnya.

Handoyo berharap dokumentasi seperti MALANGAN dapat menjadi pemantik bagi pegiat lokal untuk ikut mendokumentasikan kekayaan Topeng Malangan melalui berbagai media.

“Kami ingin nanti ada bahasan cerita topeng yang berbeda dari daerah-daerah yang lain untuk diangkat dan dikenalkan kepada masyarakat,” pungkasnya. (yog)

Exit mobile version