Jalan Ijen, Pionir Kawasan Elit di Malang Sejak Zaman Belanda

Foto-foto : Jalan Ijen di Kota Malang pada saat malam hari dan nampak atas. (foto : Steemit)
Foto-foto : Jalan Ijen di Kota Malang pada saat malam hari dan nampak atas. (foto : Steemit)

Kota Malang, blok-a.com – Jauh sebelum munculnya kawasan perumahan elit modern seperti Araya, Dieng, hingga Permata Jingga, kawasan Jalan Ijen sudah lebih dulu dikenal sebagai hunian kelas atas di Kota Malang.

Pemerhati sejarah dan budaya Malang, Agung H Buana, menyebut bahwa citra elit kawasan tersebut bukan terbentuk secara alami, melainkan hasil dari perencanaan matang sejak masa kolonial Belanda.

“Kalau sekarang orang mengenal kawasan elit seperti Araya atau Dieng, sebenarnya konsep itu sudah lebih dulu diterapkan di Ijen sejak zaman Belanda,” ujarnya.

Menurutnya, sejak tahun 1914 saat Malang berstatus Gemeente, pemerintah kolonial telah menyusun tata kota modern melalui pembagian wilayah yang disebut Bouwplan. Dalam skema tersebut, kawasan hunian untuk kalangan atas mulai diarahkan ke wilayah barat kota.

Pengembangan semakin terlihat pada dekade 1920-an, ketika wilayah Bouwplan 5 difokuskan untuk pembangunan fasilitas olahraga dan rekreasi. Di kawasan ini dibangun Stadion Gajayana serta kolam renang umum (zwembad), yang kemudian menjadi magnet berkembangnya permukiman modern.

Dari sinilah muncul kawasan Ijen Boulevard yang dirancang sebagai permukiman vila mewah bagi warga Belanda. Kawasan ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, termasuk taman-taman kota yang menjadi bagian dari konsep Garden City.

Beberapa ruang terbuka hijau yang berkembang di kawasan ini antara lain area sekitar Museum Brawijaya (dulu dikenal sebagai Beatrix Park), Hutan Kota Malabar, serta Taman Cerme.

Perencanaan kawasan ini digarap oleh arsitek Belanda Thomas Karsten bersama BOW (Burgerlijke Openbare Werken). Konsep Garden City yang diterapkan menekankan keseimbangan antara hunian, fasilitas, dan lingkungan hijau, yang saat itu tergolong modern.

Selain itu, kawasan ini juga dibangun mengikuti sumbu imajiner kota yang menghubungkan titik-titik penting, mulai dari stasiun, Balai Kota hingga ke arah barat melalui koridor Jalan Panderman.

“Jadi bukan hanya rumahnya yang mewah, tapi tata kawasannya juga dirancang eksklusif dan terintegrasi. Itu yang membuat Ijen sejak dulu sudah jadi kawasan elit,” jelas Agung.

Pembangunan kawasan ini berlangsung intensif antara tahun 1920 hingga 1938 dan awalnya dihuni oleh warga Belanda. Namun pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945, banyak warga Belanda ditangkap dan dimasukkan ke kamp internir, sehingga rumah-rumah di kawasan tersebut mulai ditempati warga Indonesia.

Memasuki tahun 1950-an, kepemilikan hunian kembali berubah, di mana banyak rumah di Jalan Ijen dibeli oleh warga keturunan Tionghoa. Meski demikian, karakter kawasan elit tetap bertahan hingga kini.

Menurut Agung, keberadaan kawasan seperti Araya, Dieng, hingga Permata Jingga saat ini sejatinya mengikuti pola yang sudah lebih dulu diterapkan di Ijen.

“Ijen itu bisa dibilang pionir kawasan elit di Malang. Yang sekarang berkembang itu sebenarnya meneruskan konsep yang sudah ada sejak dulu,” pungkasnya.

Hingga saat ini, Jalan Ijen masih menjadi salah satu kawasan prestisius di Kota Malang, dengan nilai historis dan tata ruangnya.

 

Exit mobile version