Pasar Buku Velodrome Kian Sepi, Hanya Segelintir Pedagang Bertahan

Pasar Buku Velodrome Kian Sepi, Hanya Segelintir Pedagang Bertahan
Munif salah satu pedagang buku yang masih bertahan di Pasar Buku Velodrome (blok-a/Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Kondisi Pasar Buku & Seni Velodrome, Kota Malang lesu. Tak banyak bedak yang buka menjual buku. Bahkan sejumlah pedagang memilih untuk menutup bedaknya, dan berdagang tempe keliling.

Beberapa bedak yang buka, bahkan digunakan untuk berjualan kopi atau dijadikan kafe. Itu berdasarkan pantauan blok-a.com di lokasi, Rabu (25/3/2026).

Salaam satu pemilik toko buku di Pasar Buku & Seni Velodrome, Munif membenarkan kondisi itu. Menurutnya sejak pindah tahun 2008 lalu dari Pasar Buku Jalan Sriwijaya atau depan Stasiun Malang Kota Baru pedagang buku di Velodrome mengalami pengurangan penjualan. Termasuk penjualan buku di tokonya.

“Ya kondisinya seperti ini. Ya gini ini perkambangannua banyak kemundurannya malahan. Penjualannya itu berkurang. Sekarang banyak orang-orang ambil praktisnya beli di toko online,” kata dia.

Jadi bukan hal mengagetkan, dari pantauan blok-a.com, sejumlah bedak yang mengitari sirkuit sepeda balap Velodrome itu rolling door-nya tertutup.

Munif sendiri adalah salah satu yang mencoba untuk mengais rezeki hari ini. Menurutnya 3 tahun terakhir, penjualan bukunya kadang sehari tidak ada yang laku. Paling bagus hanya ada satu sampai dua orang saja yang membeli buku.

“Kebanyakan sih mahasiswa. Mereka mencari novel atau buku motivasi diri begitu,” kata dia.

Banyak mahasiswa memburu buku di pasar buku ini karena harganya yang miring. Paling murah 10 ribu dapat 3 itu untuk majalah. Sementara novel atau buku non fiksi yabg populer di bawah Rp 50 ribu.

Sementara itu, pedagang buku di Pasar Buku & Seni Velodrome ini sekitar 71. Di sekitar Munif jualan, bedak-bedak penjual bukunya tertutup. Menurut Munif ini dikarenakan berjualan buku di pasar tersebut sudah tidak profit lagi. Ada yang berjualan tempe saat ini.

Beberapa juga memilih untuk berjualan kopi atau dijadikan warung kopi. Oleh karena itu saat blok-a.com ke sana, banyak orang memang, tapi bukan membeli atau berburu buku. Tapi menikmati kopi.

“Ada yang sekarang jualan tempe, ada yang punya di Pasar Buku Wilis. Kalau di sini tutup banyak memang. Kurang ramai sekarang,” kata dia.

Munif sendiri sebenarnya ingin berjualan yang lain selain buku. Namun Munif hanya bisa menjual buku saja. Menurutnya jual buku adalah ‘ladang sawah’-nya. 

“Tetap berjualan buku alasannya kalau pribadi saya ini seperti sawah saya sendiri. Sawah saya ini ya cuma itu alasannnya. Sehari-hari pendapatannya ya dari sini,” tuturnya.

Sebenarnya, menurut Munif, Pasar Buku & Seni Velodrome itu sempat ramai peminat. Itu terjadi sekitar tahun 2010-an. Banyak pembeli. Sehari bisa 5 orang yang membeli buku.

Bahkan saat Covid-19 tahun 2020-an juga sempat ramai. Titik balik sepinya pasar buku itu terjadi, menurut Munif, pada tahun 2023-an lalu.

“Ya tiga tahun lalu itu mulai sepi. Gak tahu ya kenapa,” kata dia.

Dari pantauan blok-a.com atap seng bangunan itu terlihat reot dan sudah tak layak pakai, dipenuhi karat yang membuat warnanya kusam kecokelatan. Beberapa bagiannya melengkung, penyok. Sementara itu, rolling dor di pintu bedak tersebut dipenuhi coretan vandal berlapis-lapis dengan berbagai warna cat, menambah kesan kumuh, tak terurus, dan semakin mempertegas kondisi bangunan yang memprihatinkan. (bob)

Exit mobile version