Jejak Freemason di Kota Malang, Terekam di Makam Kuburan Londo hingga Bangunan Loji

Jejak Freemason yang berada di Kuburan Londo (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Jejak Freemason yang berada di Kuburan Londo (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nasrani Sukun atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kuburan Londo menyimpan banyak kisah sejarah. Di tempat yang terletak di Jalan S. Supriadi Kecamatan Sukun ini, sejumlah tokoh penting era kolonial Belanda dimakamkan, termasuk beberapa yang diduga memiliki keterkaitan dengan organisasi Freemason.

Dikutip dari berbagai sumber, Freemason dikenal sebagai organisasi persaudaraan yang berkembang di Eropa sejak berabad-abad lalu. Kelompok ini memiliki misi yang berfokus pada nilai moral, persaudaraan, serta pemikiran intelektual. Namun karena sifatnya yang eksklusif dan tertutup, Freemason kerap diliputi berbagai stigma dan kontroversi.

Dalam sejarahnya, anggota Freemason banyak berasal dari kalangan ilmuwan, akademisi, pengusaha, hingga tokoh penting dalam pemerintahan dan masyarakat.

Sebagai kota yang pernah menjadi pusat aktivitas kolonial Belanda, Malang tidak luput dari pengaruh organisasi tersebut. Salah satu jejaknya dapat ditemukan di kompleks Kuburan Londo di kawasan Sukun.

Di beberapa makam tua di lokasi tersebut terdapat simbol khas yang sering diidentikkan dengan Freemason. Salah satunya berupa lambang jangka dan penggaris siku yang menjadi simbol paling dikenal dari organisasi tersebut. Selain itu, terdapat pula ukiran daun akasia yang juga kerap dikaitkan dengan simbolisme Freemason.

Simbol-simbol tersebut ditemukan di beberapa pusara, di antaranya makam Pieter Allaries serta makam Dr. P.A.A.F. Eyken beserta istrinya.

Dr. Eyken diketahui merupakan seorang dokter yang bekerja di bidang farmasi. Ia pernah bertugas sebagai apoteker di Rumah Sakit Militer di Malang. Selain itu, ia juga sempat menjabat sebagai direktur De Voskapotheek pada masa pemerintahan Gemeente Malang.

Di samping makam Dr. Eyken juga terdapat pusara sang istri yang tidak mencantumkan nama secara jelas. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan tradisi Freemason yang dikenal menjaga kerahasiaan identitas, meski di sisi lain menjunjung tinggi kebebasan berpikir.

Jejak keberadaan Freemason di Kota Malang tidak hanya ditemukan di kompleks pemakaman. Beberapa bangunan bersejarah juga diyakini memiliki keterkaitan dengan organisasi tersebut.

Salah satunya adalah bangunan di kawasan Klodjen Kidoelstraat yang kini berada di Jalan Aris Munandar. Gedung ini diketahui pernah menjadi loji Freemason pertama di Kota Malang.

Loji tersebut dibuka pada 1 April 1914 dan menjadi tempat berkumpul anggota Freemason di wilayah Malang pada masa kolonial.

Keberadaan makam dan bangunan tersebut menjadi penanda bahwa Kota Malang pernah menjadi salah satu titik aktivitas kelompok intelektual internasional pada masa lalu. Hingga kini, jejaknya masih dapat ditelusuri melalui simbol-simbol yang tersisa di sudut-sudut kota. (yog)

Exit mobile version