Kota Malang, blok-a.com – Chief Executive Officer (CEO) Ecomatriks, Adenia Novenda Putri Pramadewi sempat dilanda gunda gulana hingga hilang arah untuk melanjutkan startup yang dicanangkanya melalui program Akademik Wirausaha Mahasiswa (AWMM) di tahun 2023 silam.
Kebingungannya melanjutkan startup yang dibangun dengan dua rekannya itu bermula saat dirinya diterpa dengan persoalan marketing atau pemasaran produk hingga funding alias pendanaan.
“Jadi, anggaran awal kita dapat funding dari AWMM. Kebetulan kita dapet dana tertinggi, nah ini buat modal awal kita. AWMM berakhir pada Desember 2023, selanjutnya kita bingung mau lanjutnya bagaimana,” ujar Adenia kepada blok-a.com, Jumat (2/2/2024).
Perlu diketahui, produk dari Ecomatriks sendiri merupakan startup yang memiliki inovasi unggulan berupa tempat sampah berbasis Internet of Things atau IoT bernama e-Bin.
Menariknya, terdapat inovasi yang membedakan e-Bin dengan tempat sampah pada umumnya. Yakni, memiliki sistem monitoring dengan mengandalkan sensor khusus.
Sensor tersebut akan memberikan notifikasi kepada tim ecomatriks. Selanjutnya tim akan melakukan pick up sampah tersebut dan kemudian memilahnya sebelum pada akhirnya disetor ke mitra-mitra Ecomatriks untuk selanjutnya dilakukan pengolahan.
Meskipun terbilang alat canggih, namun peminat tempat sampah ini belum banyak. Bahkan, belum banyak masyarakat yang mengenal adanya inovasi tersebut.
Hingga pada akhirnya, tim Ecomatriks pun mencoba mengikuti sejumlah program untuk mengembangkan startupnya. Salah satunya yakni mengikuti startup competition yang diadakan oleh tujubelasan.
“Kami cukup tertarik dengan program tujubelasan. Menurut saya program ini mampu nge-develop startup kami. Jadi kita mikirnya, walaupun kita gak menang kita punya networking di sekitar Kota Malang, yang kira kira kita bisa kerjasama,” terang mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu.
Di awal, ada sekitar 50 startup yang terkumpul dalam ajang Startup Competition. Selanjutnya, jumlah tersebut berhasil diseleksi menjadi 20 startup.
Ecomatriks, menjadi salah satu peserta yang terpilih dari 20 startup yang berhasil menyingkirkan setidaknya 30 startup lain.
Dalam waktu satu bulan lamanya, startup yang berhasil masuk 20 startup terbaik akan diberikan waktu untuk merakit prototype dengan modal awal Rp5 juta rupiah dari founder tujubelasan, Asandra Salsabila.
“Di awal, kita diberi funding Rp5 juta untuk prototype e-Bin. Kita rancang sedemikian rupa dan dikompetisikan pada acara Tujubelasan Sunday Funday with sport-up di Rampal pada 21 Januari kemarin,” katanya.
Tidak hanya mendapat funding untuk prototype, Gadis asal Kota Malang ini juga mengaku mendapat pembekalan di dunia bisnis contohnya workshop, shareing soal dunia startup, hingga expo startup.
“Nah dari tujubelasan itu kami juga banyak mendapatkan workshop-workshop. Dari tujubelasan juga ada expo startup, yang mana salah satu peluang kita untuk mengenalkan startup kita kepada publik ya melalui expo itu,” ujarnya.
Tak menyangka, startup yang baru ia bangun bersama dua rekannya dalam hitungan bulan ini bisa memenangkan kompetisi tujubelasan dan mengalahkan 19 startup lainnya.
“Alhamdulillahnya, kami dapat winner dengan mendapat funding sebesar Rp25 juta. Kami sangat bersyukur, karena kerja keras kami terbayarkan di kompetisi ini,” ucapnya.
Tak berhenti di kompetisi kali ini, lanjut Aden sapan akrabnya, ia juga mangaku telah mendapat buyer atau pembeli pertama di sela-sela kompetisi bergengsi tersebut. Bahkan, dalam satu pembeli ia mendapat pesanan tiga e-Bin sekaligus.
“Nah ternyata malah di beberapa expo kita dapat klien, nah ternyata marketing di sini. Kita dapat pesanan tiga sekaligus, buyernya dari Rumah Sakit Bhayangkara,” terangnya.
Rencana ke depan, ia bersama tim akan mengembakang Ecomatriks dengan berinovasi mengembangkan produk baru semacam ATM Sampah.
“Setelah kita dapat funding dari tujubelasan, kita rencananya untuk resert and develop produk, jadi kita gak hanya sensor monitoring saja. Karena patokan kita di negara belanda yang ada atm sampah, nah kita lagi develop prodak tersebut, jadi ada robotiknya, reward sistem dan sebagainya,” bebernya.
Sehingga, funding sebanyak Rp 25 juta itu nantinya akan digunakan oleh tim Ecomatriks untuk semaksimal mungkin melakukan pengembangan bisnis dan produknya barunya.
“Nanti akan kita pikirkan, selain itu kita juga akan melakukan manufakturing. Manufakturing itu kita yang bisa olahnya sendiri, jdi sampah gak perlu disetorkan. Jadi dana itu emng kami dedikasikan untuk bisnis kedepan, untuk pengembangan,” pungkasnya.

Terpisah Founder Tujubelasan, Asandra Salsabila mengajak startup atau perusahaan rintisan yang berada di Malang Raya maupun luar Malang untuk berkembang produk atau bisnisnya secara masif melalui program Tujubelasan.
Kegiatan kreatif tersebut, kata gadis yang juga mendaftar sebagai calon legislatif dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini bertujuan untuk mendorong kreativitas dan kemajuan generasi muda.
Startup Competition ini berhasil menjaring 19 startup terbaik di Malang Raya, bahkan tak tanggung-tanggung wanita berusia 24 tahun ini memberikan bantuan dana untuk mengembangkan startup yang berhasil memenangkan startup competition.
Dari 19 startup tersebut, startup Ecomatriks terpilih menjadi pemenang dari kegiatan 2023 Startup Competition dan berhak mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp25 juta.
Ecomatriks sendiri merupakan startup pengelolaan limbah yang memiliki produk unggulan yakni tempat sampah berbasis Internet of Things atau IoT bernama e-Bin.
“Jadi dia tempat sampah yang bisa terdeteksi kalau misalnya sampah itu mau penuh dan juga ada penyalurannya dari sampah-sampah tersebut,” ujar Asandra Salsabila, pada Minggu (21/1/2024).(ptu/bob)




