Mengenal MOOI Indie Communication, Komunitas Pegiat Topeng Malangan

Pendiri MOOI Indie Communication, Yusuf Munthaha atau yang akrab disapa Yosoft M saat menunjukkan hasil karyanya bersama Nasai (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Pendiri MOOI Indie Communication, Yusuf Munthaha atau yang akrab disapa Yosoft M saat menunjukkan hasil karyanya bersama Nasai (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Di balik upaya pelestarian Topeng Malang, terdapat MOOI Indie Communication, sebuah komunitas sekaligus perusahaan kreatif yang konsisten mendokumentasikan, mempromosikan, hingga mengadvokasi kesenian tradisional tersebut.

Pendiri MOOI Indie Communication, Yusuf Munthaha atau yang akrab disapa Yosoft M, mengatakan nama MOOI diambil dari bahasa Belanda yang berarti indah. Nama itu terinspirasi dari pameran Mooi Indie yang pada masa kolonial digunakan untuk memperkenalkan keindahan Hindia Belanda kepada masyarakat Eropa.

“Fungsi utama MOOI Indie adalah menceritakan, menarasikan, sekaligus membuat berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesenian yang mewakili keindahan Indonesia,” ujarnya.

Yosoft menjelaskan, MOOI Indie lahir dari pengalamannya berkecimpung di dunia seni, film, dan teater. Berawal dari aktivitas sebagai seniman, ia kemudian mendirikan perusahaan berbadan hukum agar gerakan pelestarian budaya yang dilakukan memiliki wadah yang lebih profesional.

Selain berbentuk perusahaan, MOOI Indie juga memiliki komunitas yang menjadi ruang kolaborasi para pegiat seni dan budaya, khususnya yang memiliki perhatian terhadap Topeng Malang.

Menurut Yosoft, komunitas tersebut tidak hanya mendokumentasikan pertunjukan, tetapi juga berupaya membangun narasi mengenai nilai sejarah, filosofi, hingga potensi ekonomi yang dimiliki Topeng Malang.

Ia menilai selama ini Topeng Malang lebih banyak dipentaskan sebagai pelengkap acara, sementara potensi besarnya sebagai identitas budaya daerah belum tergarap secara maksimal.

Melalui fotografi dan berbagai kegiatan budaya, MOOI Indie berusaha memperlihatkan sisi lain Topeng Malang, mulai dari kehidupan para seniman, aktivitas sanggar, hingga nilai estetika yang terkandung di dalamnya.

“Melalui foto, saya ingin menggambarkan kondisi Topeng Malang dari berbagai sisi. Ada nilai estetika, nilai realistis, hingga kehidupan komunitasnya,” katanya.

Yosoft berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mengenal dan mencintai Topeng Malang. Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan dunia pendidikan agar pelestarian kesenian tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Jika seluruh ekosistem budaya dapat tumbuh bersama, Topeng Malang tidak hanya menjadi warisan budaya yang lestari, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat,” pungkasnya. (yog/bob)

Exit mobile version