Berawal dari Hobi Dokumentasi, MOOI Indie Communication Ikut Hidupkan Kembali Topeng Malang

Nasai, salah satu pegiat dokumentasi dari Komunitas MOOI Indie Communication saat menunjukkan hasil karyanya dalam kegiatan di Pendopo Agung Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Nasai, salah satu pegiat dokumentasi dari Komunitas MOOI Indie Communication saat menunjukkan hasil karyanya dalam kegiatan di Pendopo Agung Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Berawal dari kecintaan terhadap seni tradisi, seorang pegiat dokumentasi budaya di Malang memilih mengabadikan setiap pertunjukan Topeng Malang. Upaya yang dimulai sejak 2015 itu kini ikut mendorong bangkitnya kembali komunitas-komunitas Topeng Malang yang sempat vakum di berbagai wilayah.

Nasai salah satu pegiat dokumentasi dari Komunitas MOOI Indie Communication mengatakan, awalnya ia hanya ingin mendokumentasikan berbagai peristiwa budaya agar tidak hilang ditelan waktu. Saat itu, belum banyak pelaku seni yang memikirkan pentingnya arsip visual pertunjukan.

“Dasarnya ya suka, senang, cinta. Dulu tidak terpikiran dokumentasi ini akan dibawa ke pameran atau apa. Tujuan saya memang mendokumentasikan, karena peristiwa budaya ini harus ada yang terdokumentasi,” ujarnya saat ditemui dalam acara Gema Panji Budaya Malang Kucecwara.

Nasia menambahkan, pada periode 2015 hingga sekitar 2020 banyak komunitas Topeng Malang yang vakum. Kondisi tersebut membuat keberadaan kesenian tradisional itu semakin kurang dikenal masyarakat.

Ia mencontohkan, saat masyarakat mencari informasi mengenai Topeng Malang di internet, yang muncul hanya wilayah Pakisaji. Padahal, komunitas serupa juga tersebar di Jabung, Lereng Kawi, Senggreng, Jaticandi, hingga kawasan selatan Kabupaten Malang.

“Dulu komunitas-komunitas pinggiran ini kurang terdokumentasi, kurang terdengar, sehingga kurang dikenal masyarakat,” katanya.

Tak hanya mendokumentasikan, Nasai mengaku aktif mengajak generasi muda di kampung-kampung seni untuk kembali menghidupkan kesenian Topeng Malang.

“Saya berusaha menjadi provokator dalam arti positif. Saya mengajak teman-teman muda di kampung-kampung topeng untuk kembali menghidupkan topeng,” ungkapnya.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Saat ini, sekitar 11 komunitas atau sanggar Topeng Malang telah kembali aktif di berbagai wilayah, seperti Jabung, Tumpang, Pakisaji, Duwet Krajan, Pijiombo, Jambuwer, Jaticandi, hingga Senggreng.

Nasai menyebut, masing-masing komunitas memiliki karakter dan ciri khas tersendiri, baik dari bentuk topeng maupun tarian yang ditampilkan.

“Topeng Malang bukan hanya menceritakan kisah Panji, tetapi juga ada cerita Purwa dan Menak. Yang sekarang perlu segera direvitalisasi adalah Topeng Menak yang ada di wilayah Kalipare,” jelasnya.

Baginya, kebangkitan kembali komunitas-komunitas Topeng Malang menjadi kepuasan tersendiri setelah bertahun-tahun mendokumentasikan perjalanan seni tradisi tersebut.

“Ketika mendengar teman-teman di Jambuwer mulai bergerak, di Pijiombo mulai bergerak, di Kranggan mulai bergerak, itu ada kepuasan sendiri. Akhirnya sekarang mereka bisa berkolaborasi se-Malang Raya,” pungkasnya. (yog/bob)

Exit mobile version